Pages

Rabu, 11 September 2013

Review Novel : A Walk to Remember, Nicholas Sparks



Judul : A Walk to Remember (Kan Kukenang Selalu)
Penulis : Nicholas Sparks
Penerjemah : Kathleen SW.
Jumlah Halaman : 256 hlm.
Genre : Young Adult Romance
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cover Designer : Marcel A.W.
Tahun : 2002
Harga : Rp. 30.000 (Beli kolpri di fb : Kerry Higgins.)
One word about this book : Religious

Sewaktu berusia tujuh belas tahun, hidup Landon Carter berubah selamanya. Dan semua karena Jamie Sullivan...
Jika cinta bisa memilih, Landon tentu tidak akan memilih untuk jatuh cinta pada Jamie. Gadis yang selalu membawa Alkitab ke sekolah, menyelamatkan binatang yang terluka, menjadi relawan di panti asuhan... gadis yang suci dan memiliki hati bak malaikat. Tak ada yang pernah mengajak Jamie kencan, dan Landon pun tidak pernah bermimpi untuk berkencan dengannya.
Sampai takdir menentukan lain... dan mengubah hidup Landon selama-lamanya.
            This is a flashback story. Cerita berasal dari seorang Landon Carter tua yang kembali mengenang masa-masa mudanya di sebuah kota kecil bernama Beaufort. Di waktu muda, Landon adalah seorang laki-laki bengal—namun bukan tipe pemberontak—yang hobi makan kacang rebus di pemakaman. Dengan karakter seperti itu, jelas ia tidak akan pernah tertarik pada Jamie Sullivan—teman satu sekolahnya—yang merupakan perempuan ‘terlalu’ baik-baik dan amat religius.
Jamie adalah gadis yang akan mencabuti ilalang di kebun seseorang tanpa diminta atau membantu anak-anak menyeberangi jalan. Ia akan menabung uang sakunya untuk membeli sebuah bola basket baru untuk anak-anak yatim piatu, atau memasukkan uangnya ke dalam ranjang kolekte gereja pada hari minggu.
            Dengan kata lain, ia adalah tipe gadis yang akan membuat kami semua tampak buruk. Setiap kali ia melirik ke arahku, mau tidak mau aku akan merasa bersalah, bahkan di saat aku tidak melakukan kesalahan apa-apa. (hal. 34-35)
            Namun suatu hari, ketika sekolahnya mengadakan pesta homecoming, Landon yang merupakan pemegang jabatan strategis di sekolahnya dirundung gelisah karena ia masih belum punya pasangan untuk menghadiri pesta homecoming tersebut. Ia sudah mencoba menghubungi beberapa perempuan tetapi ternyata memeka sudah punya pasangan atau agenda lain. Landon-pun hanya punya beberapa pilihan yang jelas tidak ia sukai. Menuangkan punch dan membersihkan muntahan di wc saat pesta berlangsung, ke pesta dengan ibunya, atau menawari Jamie untuk pergi dengannya karena hanya gadis itulah yang tersisa. Tentu saja dua pilihan pertama segera Landon singkirkan jauh-jauh, meskipun pilihan ketiga juga sama sulitnya. Namun, Landon-pun akhirnya mengajak Jamie untuk pergi dengannya, dan Jamie-pun mengiyakan ajakan Landon. Tetapi menakhlukkan Jamie tak semudah menakhlukkan ayah Jamie yang merupakan seorang pendeta di kota tersebut. Apalagi pendeta Hegbert—ayah Jamie—sudah mencap Landon sebagai laki-laki tidak baik karena masa lalunya. Walau begitu, setelah melalui serangkaian wawancara dengan ayah Jamie, Landonpun diijinkan untuk mengajak anak gadisnya ke pesta.
            Di pesta, Landon dan Jamie cukup bersenang-senang seperti yang lainnya. Mereka justru bersama-sama membersihkan muntahan mantan pacar Landon di wc hanya agar mantan pacar Landon itu tidak dikeluarkan dari sekolah karena ketahuan mabuk-mabukan.
            Hubungan Landon dan Jamie tidak berakhir sampai disitu. Landon tidak dapat menolak permintaan Jamie yang mengajaknya untuk ikut dalam drama Natal, walau di kemudian hari, Landon justru menyesali perbuatannya. Ia tidak suka diejek teman-temannya yang memergokinya sering berinteraksi dengan Jamie. Tetapi saat pertunjukkan drama itu tiba, Landon terpukau dengan penampilan Jamie yang tidak seperti kesehariannya. Sweter, rok kotak-kotak, dan rambut disanggul tingginya menghilang digantikan gaun dan rambut yang digerai bertabur glitter. Sejak itulah Landon mulai memiliki rasa terhadap Jamie, dan yah, hubungan merekapun semakin intim meskipun tetap saja ada batasan-batasan mengingat Jamie adalah gadis religius.
            Sampai suatu hari, Landon mengetahui fakta tentang Jamie yang kontan mengubah hari-hari Landon penuh dengan hal-hal melakonlis. Di saat itulah, ia memutuskan untuk mengabulkan keinginan terbesar Jamie—menikah dengan tamu penuh sesak di gereja—meskipun Landon tahu, mungkin saja ia tidak akan memiliki rumah tangga berumur panjang seperti yang lainnya.
***
            Talk about A Walk to Remember, ada dua hal yang membuat saya tertarik untuk membaca novel ini (selain dengan alasan bahwa Nicholas Sparks adalah penulis favorit saya). The first one, karena saya sudah menonton film A Walk to Remember ini dan saya suka-suka-suka sekali dengan filmnya. The second one, cerita ini mengingatkan saya pada novel Mira W. “Merpati Tak Pernah Ingkar Janji” yang juga bercerita tentang cowok beken di sekolah yang menjalin hubungan dengan gadis religius anak pendeta, plus hubungan mereka juga tidak mendapat respon cukup baik dari si ayah sang gadis.
            A Walk to Remember kembali mengulang prestasi yang sudah saya lakukan pada Dear John, yaitu merampungkan novel ini hanya dalam satu malam, meskipun saya akui, membaca terjemahan dari novel ini tidak begitu mudah dan lancar. Pun alur ceritanya juga cenderung flat, dan saya cukup kecewa karena tidak ada adegan-adegan istimewa seperti yang ditampilkan di film. Bahkan bisa saya bilang, alur cerita di novel dan di film sangat berbeda. Jangan berharap bisa menemukan adegan Jamie bernyanyi di panggung sambil diiringi piano dengan lagunya yang fenomenal ‘Only Hope’ karena drama yang mereka tampilkan di novel dan di filmpun berbeda, so, there is no kiss between Jamie and Landon after that song in the book. Kecewa. Padahal itu adalah momen yang paling memorable dari film A Walk to Remember. Selain itu, adegan dimana Landon memberi Jamie tato, mengajaknya mengunjungi dua negara bagian dalam satu detik, sampai memberi Jamie sebuah bintang juga tidak ada di buku. Dan yang paling terasa tentu saja perbedaan ending-nya. Walau begitu, alur cerita di buku juga bagus.
            Bukan hanya dari segi plot yang berbeda, karena nyatanya, karakter Jamie dan Landon yang ada di film dan di bukupun lumayan berbeda. Taraf kebengalan Landon di film jelas lebih terasa, sementara di buku, Landon masih terkesan cowok baik-baik yang hanya sedikit nakal. Sementara Jamie, karakternya di novel terasa lebih komikal, periang, ceria, cenderung polos, sementara di film ia tampak lebih pendiam, meskipun tetap sama-sama relijius.
            ...... Ia selalu menyebut rencana Tuhan setiap kali kau berbicara dengannya, tidak peduli apapun topiknya. Pertandingan baseball batal karena turun hujan? Tentunya sudah rencana Tuhan untuk mencegah terjadinya sesuatu yang lebih buruk lagi. Ulangan mendadak Trigonometri sehingga seluruh kelas mendapat nilai jelek? Tentunya sudah rencana Tuhan untuk memberikan tantangan pada kita. (hal. 35-36)
            Paragraf di atas cukup menggambarkan bagaimana kerelijiusan Jamie yang sedikit membuat saya tersenyum saat membacanya. Juga percakapan di bawah ini.
Jamie : Ayahku tidak terlalu menyukaimu.
Landon : (mengangguk)
Jamie : Ia menganggapmu tak bertanggung jawab.
Landon : (mengangguk lagi)
Jamie : Ia juga tidak menyukai ayahmu
Landon : (mengangguk sekali lagi)
Jamie : dan keluargamu. Kau tahu apa yang kufikirkan?
Landon : Tidak juga.
Jamie : Menurutku semua ini merupakan bagian dari rencana Tuhan. Menurutmu apa pesan yang hendak disampaikan-Nya?
Dan Jamie yang religius, selain sering sekali menghubungkan segala sesuatu sebagai rencana Tuhan, ia juga suka mendoakan orang lain. Aku sudah berdoa untuknya. Saya benar-benar cinta dengan karakter Jamie versi novel ini. Religius, namun saat disampaikan oleh Landon—yang bertindak sebagai ‘aku’—ternyata cukup menghibur.
Oh ya, saya juga menemukan sedikit keganjilan dari novel ini. let’s see....
(ia = Jamie, aku = Landon)
            Ia masuk ke dalam rumah, tapi tetap membiarkan pintunya terbuka, dan aku melihat isi rumahnya sekilas. ........................ Di atas meja terdapat beberapa buku dengan judul-judul seperti Listening to Jesus dan Faith is the Answer. Alkitab-nya juga ada di situ, dan terbuka pada bagian Lukas. (hal. 51)
See? Sepertinya Landon punya kemampuan super karena hanya dengan melihat sekilas, ia bisa tahu apa yang tertera pada Alkitab Jamie yang terbuka tersebut. J
            Seperti kebanyakan novel Sparks lainnya, A Walk to Remember adalah novel melankolis namun tak cukup berhasil membuat saya mellow seperti yang dilakukan Dear John. But, filmnya sudah membayar lunas ‘momen haru’ yang saya rindukan tersebut. Entirely, novel ini tidak jelek, hanya saja tidak terlalu berkesan. Saya justru lebih suka novel ‘Merpati Tak Pernah Ingkar Janji’ yang ceritanya lebih greget.
            For the next, pengen banget baca Nicholas Sparks—The Last Song—tetapi masih belum nemu orang yang jual. Ada yang mau jual koleksinya atau pengen ngasih ke saya? Hehhe....

NB :

  1. Saya lebih menyukai cover ‘A Walk to Remember’ versi Indonesia daripada versi aslinya. But yeah, it’s just about preference.
  2. Bagian yang paling saya suka dari novel ini adalah saat Landon menambah uang sumbangan yang didapat Jamie dengan uang tabungannya sendiri. Touching moment!


RATING 5,5 of 7

Review : Dear John, Nicholas Sparks



Judul : Dear John
Penulis : Nicholas Sparks
Penerjemah : Barokah Ruziati
Jumlah Halaman : 392 hal.
Genre : Young Adult Romance
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cover Designer : Marcel A.W.
Tahun : 2010
Harga : Rp. 30.000 (Beli kolpri di Toko Bagus. Hehe...)
One word about this book : Sacrifice

Entah sejak kapan saya mengagumi karya Nicholas Sparks, saya sendiri kurang tahu. Dua judul novelnya yang saya baca terlebih dahulu, Message in A Bottle dan The Notebook, kurang bisa menancapkan kesan yang baik bagi saya untuk membaca karya-karya Sparks lainnya. Namun satu hal yang baru saya ketahui, ternyata efek Sparks pada saya baru bekerja setelah novelnya sudah saya baca berbulan-bulan, contohnya Message in a Bottle yang saya habiskan dengan susah payah dan banyak mengeluh karena kalimat Sparks yang panjang-panjang, namun ternyata sekarang saya malah merindukan semua adegan yang ada di dalam novel tersebut. Oleh karena itu, melihat novel Dear John ini yang dijual murah karena kolpri—padahal kondisinya 98% masih bagus banget—saya langung memutuskan untuk mengambilnya dan melahapnya dalam 1 malam.
***
Dear John dibagi dalam 5 bagian yaitu prolog, bagian 1, bagian 2, bagian 3, dan epilog. Pada bagian prolog—John Tyree, alias si tokoh ‘aku’ tengah memandang Savannah yang tengah memberi makan kuda dari kejauhan sambil merenungkan hal-hal yang telah terjadi padanya dan Savannah selama ini. Tentu saja bagian ini tidak dapat menjelaskan apa-apa.
Bagian satu berisi masa-masa indah antara John dan Savannah. John adalah seorang pemuda pemberontak yang tinggal di North Carolina bersama sang ayah yang sangat pendiam. Ayah John yang hanya seorang tukang pos membuat kehidupan mereka tak bisa dibilang kaya, sementara John yang beranjak remaja tentu memiliki tuntutan-tuntutan tertentu seperti menginginkan barang-barang yang dipunyai remaja seusianya. Puncak dari pemberontakan John adalah ketika ia mulai muak dengan ayahnya yang hanya mengurusi koin dan koin sementara jika koleksi koin itu dijual, mereka bahkan bisa kaya raya. Sampai suatu waktu, John memutuskan untuk masuk militer.
Pertemuan John dan Savannah diawali ketika John menolong Savannah dengan mengambilkan tasnya yang jatuh ke laut. Saat itu Savannah dan teman-temannya tengah berada di North Carolina untuk kegiatan Habitat for Humanity. Sebuah misi sosial memberikan rumah kepada orang-orang yang membutuhkan. Sementara John sendiri sedang mengambil cuti militer selama 2 minggu sehingga memutuskan pulang ke kampung halaman. Sejak itu, pertemuan John dan Savannah semakin intens. Mulai dari belajar berselancar, ke gereja, dinner bareng, sampai bertemu dengan ayah John yang ternyata disukai oleh Savannah. Sampai akhirnya, merekapun saling mengungkapkan cinta namun tak lama kemudian harus berpisah karena John akan kembali ke Jerman meneruskan masa militernya. Hubungan merekapun dilanjutkan dengan saling berkirim surat.
Bagian kedua, hubungan John dan Savannah mulai diwarnai intrik-intrik terutama karena Savannah yang lebih mementingkan urusan akademiknya dibandingkan John padahal ia punya alasan untuk itu. Johnpun yang sangat menantikan masa cuti militernya tiba untuk menemui Savannah, mulai merasa kecewa dengan sikap gadis itu.
Sekembalinya John ke Jerman, sebuah peristiwa kembali menguji hubungan asmaranya. John memutuskan untuk memperpanjang militernya setelah peristiwa 9/11 terjadi, dan itu artinya, rencananya untuk menikahi Savannah akan tertunda. Surat-surat Savannah-pun semakin jarang John terima. Sampai suatu saat, John menerima sepucuk surat dari gadis itu yang menyatakan bahwa ia akan menikah.
Bagian ketiga, sepeninggal wafatnya sang ayah, John yang telah menyelesaikan militer, kembali bertemu dengan Savannah di kampung halaman gadis itu. Di sana, John tak menemui suami Savannah dimanapun, namun keganjilan itu akhirnya terkuak. John-pun mengambil sebuah keputusan besar di mana perasaannya kembali dipertaruhkan.
***
One day for a book! Wuh! Rasanya bisa dihitung dengan jari jumlah buku yang saya selesaikan dalam satu hari, dan Dear John adalah rekor karena ini satu-satunya novel terjemahan yang bisa saya tuntaskan kurang dari 24 jam. Hal ini tak terlepas dari sudut pandang ‘aku’ yang digunakan penulis. Sudut pandang orang pertama memang sering dipakai dalam novel apapun, namun rasanya jarang sekali ada novel romance yang ‘aku’nya adalah seorang laki-laki. Hal ini membuat saya sedikit antusias karena dengan begitu, ceritanya bisa lebih mudah didalami. Apalagi John termasuk tokoh manusiawi, I mean, walaupun militan identik dengan sosok cowok tangguh, namun John juga bisa ‘mellow’ bahkan menangis. Perasaannya John-pun tersampaikan dengan sangat baik (khususnya kepada saya pribadi) seolah-olah dia benar-benar sedang curhat dan saya menyimak dengan seksama. Yang paling saya suka dari novel ini adalah hubungan antara John dan ayahnya yang menderita penyakit Asperger. Sempat gregetan juga dengan karakter si ayah yang pendiam sekali, namun menjelang wafatnya, saya dibuat terenyuh saat John mulai peduli dengan sang ayah.
But, tentu saja surat-surat Savannah untuk John adalah bagian terbaik dari novel ini. Ya, memang surat-surat Savannah karena di sini tak ada satupun surat dari John untuk sang kekasih.
            Harus kukatakan bahwa surat terakhirmu membuatku khawatir. Aku ingin mendengarnya, aku harus mendengarnya, tapi aku mendapati diriku menahan nafas dan ketakutan setiap kali kau bercerita seperti apa kehidupanmu yang sesungguhnya. Di sinilah aku, bersiap-siap pulang ke rumah untuk merayakan Thanksgiving dan cemas menghadapi ujian, dan kau berada di suatu tempat yang berbahaya, dikelilingi orang-orang yang ingin menyakitimu. Aku hanya berharap orang-orang itu bisa mengenalmu seperti aku mengenalmu, karena dengan begitu kau akan aman. Seperti aku merasa aman saat aku berada di pelukanmu.
Dibandingkan dengan dua novel Sparks yang sebelumnya saya baca, Dear John terasa lebih ringan dibaca, walaupun konfliknya terasa lebih matang.
Prestasi juga saya berikan kepada Barokah Ruziati yang menerjemahkan novel ini nyaris tanpa cela. Ini juga yang mendongkrak salah satu kecepatan membaca saya karena Dear John versi Indonesia ini benar-benar seperti ditulis oleh orang Indonesia. Dan good job juga buat Marcel A.W., desainer cover. Ilustrasi yang pas sekali dengan setting cerita yang 70% berada di kawasan pesisir.
Berat rasanya saat menemui lambing Gramedia di halaman 387, cause that means, cerita John sudah harus berakhir. Tapi tak apalah karena sebentar lagi kiriman A Walk to Remember juga bakal sampai ke rumah.
From now, I’m officially Nicholas Sparks’s fan.

Rating : 7 of 7



 
Images by Freepik