Pages

Rabu, 03 September 2014

Top Ten Most Memorable Books



                Beberapa menit yang lalu, saya baru aja baca postingan terbaru blog Kak Ren yang link-nya dia kasih di FB. Iseng sih karena pada dasarnya saya memang selalu kepo sama kesukaan orang. Nah, yang nggak disangka-sangka, di akhir postingan, ternyata blog saya dicantumin sebagai yang ditantang untuk ikut membeberkan sepuluh buku paling memorable yang pernah dibaca sampai saat ini. saya nggak keberatan sama sekali, malah seneng karena akhirnya bisa berbagi juga soal buku-buku yang paling berkesan yang beberapa hasil pinjem di perpust dan beberapa yang lain udah lecek di rak buku.
                Here they are!
Mortal Kiss – Alice Moss
Dari segi cerita sih, novel ini biasa sekali. Saya bahkan udah lupa gimana plot yang disajikan novel paranormal romance ini. Namun yang jelas, di tengah-tengah demam werewolf dan vampire yang sedang merajalela, ide cerita Mortal Kiss bisa dibilang udah basi banget. E tapi tapi, Mortal Kiss adalah novel impor pertama yang saya beli sekaligus novel berbahasa Inggris pertama yang berhasil saya tuntaskan. Bahkan di bis aja novel ini sempat saya jamah (it was night and dark but I had mobile light). Meskipun setelah Mortal Kiss saya sempet males baca novel berbahasa Inggris lagi untuk waktu yang tidak sebentar, tapi paling tidak saya tahu bagaimana rasa bangganya ketika saya bisa menikmati tulisan dalam bahasa aslinya.

Tusuk Jelangkung – FX. Rudi Gunawan
Masih berhubungan sama kata ‘pertama’, novel ini adalah novel pertama yang saya beli dengan uang sendiri (faktanya, saya nggak pernah dibelikan buku apa pun sama ortu, bahkan buku pelajaran juga harus nyisihin uang sendiri). Selain dana, perjuangan lain untuk memiliki novel ini adalah jarak yang harus saya tempuh. Dari sekolah, nggak ada angkot yang lewat di depan toko buku kecil satu-satunya di kota saya, jadilah saya jalan kaki panas-panas hanya demi beli sebuah buku. Dulu, saya itu selalu ngeces sama toko buku kecil (TOBUCIL) pendatang baru yang entah kenapa serasa susah banget dijangkau. Betewe, nyimpen novel ini pun nggak mudah karena waktu malam, saya harus nyelipin novel ini di lipatan baju. Selain karena takut ketahuan beli novel sama ortu (yang pasti bakal langsung disemprot habis-habisan), saya juga takut ngeliat cover-nya yang horor. Hahaha... Maklum lah waktu itu aura horor masih kental di kampung saya. Sejak punya Tusuk Jelangkung ini, saya jadi rajin nabung (sesekali juga ngintilin duit beasiswa, ssst!) buat beli novel yang stok judulnya dikit banget di toko buku. Ah! Andai zaman saya SMP dulu udah kenal sama toko buku online.

Jakarta Undercover – Moammar Emka
Pernah baca buku dengan perasaan was-was karena takut kepergok? Well, itulah pengalaman saya dengan buku fenomenal ini. Tahu kan Jakarta Undercover sarat banget dengan hal-hal yang bersifat tabu dan kontroversial, dan sialnya, hal itu tertulis secara gamblang di blurb belakang buku. Aaah! Saya sampai frustasi saat itu karena pengen banget baca buku ini tapi juga malu nyentuhnya. FYI, saya nemu buku ini di perpustakaan umum dan waktu itu usia saya baru jalan 15. Jadilah saya sering berkunjung ke sana pada hari jum’at, mepet-mepet pas pada mau sholat jum’at soalnya saat itu perpustakaan umum deket sekolah pasti lagi sepi. Dan itu pun bacanya juga di lorong antara rak buku sama dinding. Hihihi... Tapi, ternyata saya muka badak juga karena akhirnya buku ini pun saya bawa ke meja peminjaman. Waktu petugas nyatat judul buku dan tetek bengeknya di buku besarnya (waktu itu belum ada sistem tembak laser di perpustakaan daerah saya), saya pura-pura ngeliat ke arah lain, sok nggak peduli. Hahaha... Dan akhirnya, buku ini pun sukses saya bawa pulang ke rumah. Oh ya, sebenarnya Jakarta Undercover bukan satu-satunya ‘buku khusus dewasa’ yang iseng saya intip di perpust. Dulu, masih di usia 15, juga sempat ngintip ‘Kamasutra’, tapi nggak ampe dibaca seriusan apalagi dipinjam. Ini mah udah ketara banget khusus dewasanya. Hehehe...

Harry Potter dan Relikui Kematian – J.K. Rowling
‘Berapa lama baca novel setebal ini?’ tanya petugas perpustakaan dengan kening mengernyit. Dan yah, sejauh ini, Harry Potter dan Relikui Kematian adalah novel paling tebal yang pernah saya baca dan saya tuntaskan dalam waktu kurang dari 3 hari. Sempet dimarahin sama ortu sih gara-gara nggak waktu makan nggak waktu tidur, selalu aja bergulat dengan novel ini. Dan, babe juga sempet ngasih kultum katanya kalau baca Qur’an mungkin saya sudah tamat 3 kali. By the way, ini novel yang bikin saya mewek berkali-kali.

Brisingr – Christopher Paolini
Masih dapet pinjem dari perpustakaan, saya sih bisa dibilang terpaksa baca novel ini berhubung Eldest nggak tersedia di perpust padahal saya udah jatuh hati sama Eragon dan dunianya yang ajaib. Nah, memorable thing-nya adalah Brisingr adalah buku yang paling sering saya pinjem terus dibalikin lagi gara-gara nggak pernah selesai bacanya. Bukan karena halamannya yang padat, tetapi saya selalu stuck di tempat yang sama. Guess where? Hmm, saya sih udah lupa detailnya, tapi yang pasti waktu ada adegan ngiris-ngiris tangan pakai pedang (atau pisau ya?) itu. Ah! Terus terang aja, saya hemophobia dan ngebayangin adegan tersebut bikin isi perut saya menjerit untuk dikeluarkan lewat mulut. Well, sampai sekarang, novel ini juga nggak pernah berhasil saya tamatkan.

Morning Glory – Lavyrle Spencer
Saya baru kenal sama genre Historical Romance di bangku kuliah ini, tepatnya waktu semester 3 sekitar setahun yang lalu. Itu juga karena partner baca saya yang ngomporin kalau dia lagi demen-demennya novel Johanna Lindsey. Ya, saya juga sempet menikmati baca novelnya Tante Jo apalagi yang judulnya Angel, tetapi Morning Glory adalah novel dari genre tersebut yang paling saya suka. Kalau ngebayangin dari fisik novel ini, saya sih bisa langsung mundur teratur. Font yang terlalu kecil dan volume yang tebal sama sekali tidak memikat saya untuk melahap novel ini. Tetapi karena saat itu lagi krisis bacaan dan cuma novel ini yang covernya bagus di timbunan, jadilah saya memberanikan diri untuk membaca Morning Glory dengan anggapan bahwa paling saya bakalan nyerah di tengah jalan. Namun fakta berkata sebaliknya karena saya jatuh cinta dengan jalan cerita yang detail dan natural. Kasih sayang yang terjalin di antara tokoh utama pun mengalir apa adanya seolah-olah ini bukan kisah fiksi yang penuh rekayasa. Saat ini, saya lagi nyari novel Lavyrle Spencer lainnya tapi belum ketemu yang harganya murah.

Alfred Hitchcock dan Trio Detektif – Robert Arthur Jr., William Arden, M. V. Carey, Nick West, dan Mark Brandel
Zaman SMP, novel ini adalah bacaan utama saya selain buku-buku cerita tipis bertema pendidikan yang settingnya selalu di pedesaan, sastra melayu klasik, kisah kerajaan zaman Hindu-Budha, dan juga cerita-cerita rakyat. Zaman itu, saya belum kenal novel pop, teenlit, dan sebagainya yang memperkenalkan dunia modern. Kebetulan Alfred Hitchcock dan Trio Detektif punya setting dan jalan cerita yang berbeda dari cerita-cerita yang pernah saya baca meskipun pada dasarnya novel ini juga berlatar tahun 90an. Bahkan saking nge-fansnya dengan bacaan ini, saya sampai berkhayal kalau ada casting film yang diangkat dari novel ini, saya bakalan ikutan dan pengen banget jadi Peter Chrensaw. Dari semua novel Trio Detektif yang pernah saya baca, Misteri Bisikan Mumi adalah judul yang paling membuat saya merinding. Sekarang, saya jadi kepengen ngoleksi semua seri novelnya yang mencapai 43 judul itu.

Dear John – Nicholas Sparks

Di blog saya yang baru aja berusia satu tahun ini, Dear John adalah novel pertama yang mendapat rating penuh alias 7 bintang. Ceritanya sih tipikal Nicholas Sparks. Militer, cinta, keluarga, dan sad ending. Tetapi saya baru nemu novel roman yang diambil dari sudut pandang tokoh utama laki-laki sehingga chemistry yang saya rasakan waktu baca novel ini berasa sekali. Plusnya lagi, cerita yang disuguhkan juga terlihat dewasa, logis, dan tidak cengeng. Paling juara sih ending­-nya yang nyesek banget itu. Sejak baca Dear John inilah saya menasbihkan diri untuk menjadi penggemarnya Om Nico dan sampai sekarang udah mengumpulkan 13 dari 18 novelnya. (Dikit lagi!!)

The Last Song – Nicholas Sparks

Setelah hiatus cukup lagi dari ‘kegiatan membaca buku Bahasa Inggris selain materi kuliah’, saya akhirnya dibangunkan dari tidur panjang tersebut oleh sebuah novel dari penulis favorit saya yang berjudul, The Last Song. Saya udah lama berburu The Last Song dan akhirnya nemu juga di salah satu toko buku online dengan harga murmer. Jujur, saya nangis sesenggukan baca buku ini. Hahaha.... Bukan karena kisah kasih Ronnie dan Will, tetapi karena ketulusan Steve pada kedua anaknya. Klimaksnya sih waktu si bungsu Jonah bertekad untuk menyelesaikan jendela mozaik yang tengah dikerjakan ayahnya meskipun keterampilan yang ia miliki pas-pasan banget. Seperti yang saya tulis di artikel buat buletin jurusan, The Last Song is a tear-jerker book ever!. Walaupun di awal-awal tingkah Jonah bikin saya nyengir, tetapi seratus halaman terakhir membuat saya berasa dinaungi awan mendung. Bawaannya mellow terus!

Our Story – Orizuka

Saya juga nahan air mata pas baca buku ini, tetapi bukan semata-mata karena ceritanya yang sendu melainkan keinget sama ortu. Sekedar informasi, Our Story saya baca waktu lagi di bis. Di perjalanan menuju Banjarmasin untuk kuliah dan itu adalah pertama kalinya saya harus pisah dari orang tua dalam waktu yang lama. Gimana nggak sedih coba udah dapet cerita yang mellow ditambah lagi fakta bahwa beberapa jam ke depan saya bakal tiba di asrama untuk hidup di sana dalam beberapa bulan ke depan. Oke, di luar masalah pribadi, jujur aja, Our Story adalah novel paling keren yang pernah saya baca seumur hidup. Kata temen saya, biasanya cewek-cewek pada naksir sama badboy tetapi di Our Story ini yang jadi favorit adalah pahlawannya, Ferris. Karena saya bukan cewek, saya sih nggak bisa menilai demikian tetapi emang bener sih karakter Ferris itu totally cool. Karena jadi favorit dan sering saya rekomendasikan ke temen-temen, sedih juga sih ngeliat novel ini kayaknya menderita banget dengan sampul yang lecek, halaman yang nyaris kelepas, dan binding yang kebelah. Padahal ini edisi bertanda tangan. Hiks!
                Berhubung saya belum kenal temen-temen di BBI ini, jadi tantangan ini nggak saya forward ke yang lain ya. (Nasib!) Oh ya, karena modemnya baru aja diambil yang punya, saya jadi batal ngepost postingan ini sekarang. Mungkin besok deh pakai wifi kampus.


Wishful Wednesday Edisi #2

Dua minggu sudah saya absen dari weekly meme ini, dan saya cukup menyesal karena melewatkan WW minggu lalu yang mempersembahkan giveaway bagi post terbaik. Okelah! Saya nulis WW buat edisi kali ini juga nggak begitu berharap banyak karena cuma mengandalkan fasilitas wifi kampus yang akhir-akhir ini rada bermasalah. Tetapi kalau tidak bisa dipost sekarang, mungkin ini bisa jadi WW buat minggu depan, atau depannya lagi, dan seterusnya.
Nah, untuk edisi kali ini, saya cuma punya buku untuk diidam-idamkan. Kedua-duanya adalah terbitan Gramedia (salah satunya cetak ulang) dan sinopsisnya bikin saya ketar-ketir pengen baca apalagi dari review-review di blog lain juga menganggap buku ini punya konten yang menarik.
1.       My Sister’s Keeper (Penyelamat Kakakku) – Jodi Picoult
Sinopsis:
Beberapa jam setelah lahir, Anna sudah menyumbangkan sel darah tali pusat untuk kakaknya, Kate. Setelah itu Anna menjalani puluhan suntikan, transfusi darah, dan operasi agar Kate bisa melawan leukemia yang dideritanya sejak kanak-kanak. Memang, untuk tujuan menyelamatkan hidup Kate-lah Anna dilahirkan. Dan saat ini, ibunya meminta Anna menyumbangkan ginjalnya untuk Kate yang nyaris sekarat.

Menginjak usia remaja, Anna mulai berani mempertanyakan tujuan hidupnya. Sampai kapan ia harus terus menyuplai kebutuhan kakaknya? Hingga akhirnya Anna mengambil keputusan untuk menggugat orangtuanya agar memperoleh hak atas tubuhnya sendiri. Keputusan yang membuat keluarganya terpecah dan mungkin berakibat fatal untuk kakak yang teramat disayanginya....

“Novel yang dirangkai indah ini akan merenggut perhatian pembaca dengan topik yang mengejutkan....”
— PEOPLE magazine

2.       Handle with Care (Sentuh dengan Hati-Hati) – Jodi Picoult

Sinopsis:
Setiap orangtua hanya berharap bisa mendapat bayi yang sehat. Demikian pula dengan Charlotte dan Sean O Keefe. Namun, kenyatannya tidak begitu. Di antara malam-malam tanpa tidur, tagihan rumah sakit yang menumpuk, dan tatapan iba orangtua lain yang lebih beruntung tebersit pertanyaan... Seandainya Willow, anak mereka, terlahir sehat.

Segalanya berubah ketika Charlotte dan Sean dihadapkan dengan pertanyaan; Seandainya mereka tahu tentang kondisi penyakit Willow sejak dalam kandungan, apa yang akan mereka lakukan? Apakah keadaan akan berbeda?

Bagaimana seandainya mereka bisa memutuskan bahwa seharusnya Willow tak perlu dilahirkan? Terkadang cinta seorang ibu yang teramat besar membuatnya harus mengambil keputusan sulit yang mematahkan hati semua orang yang disayanginya.
Pengen refreshment sedikit dengan membaca buku dari genre yang jarang saya geluti. Satu-satunya buku bertema keluarga yang pernah saya baca hanya The Lovely Bones. Kabar buruknya, Gramedia nggak pernah menaruh belas kasihan dalam menaruh harga buku. Yang Handle with Care nembus seratus ribu lho, berapa lagi tuh kalau udah nyampe di Gramedia kota saya. Namun, saya tetap berharap siapa tahu saja ada rejeki berlebih atau menang giveaway mungkin sehingga bisa bawa pulang kedua buku tersebut. I wish with all of my heart.

Bagi yang ingin ikutan weekly meme ini, silakan ikuti cara di bawah ini:
  • Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
  • Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) atau segala hal yang berhubungan dengan kebutuhan bookish kalian, yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku/benda itu masuk dalam wishlist kalian ya!
  • Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  • Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)


Senin, 01 September 2014

Review Novel: Bangkok: The Journal, Momoe Rizal



Title : Bangkok: The Journal (STPC #3 Gagasmedia)
Author : Momoe Rizal
Pages : viii+436
Genre : Adult Romance
Publisher : GagasMedia
Cover Designer : Jeffri Fernando
Year : 2013
Price : Rp. 51.500
ISBN : 978-979-780-629-3
Goodreads’ Rating : 4.12 stars of 594 ratings
First Sentence : Nah, selesai.
Final Sentence : Supaya aku bisa mendapat tambahan 750 baht-ku. –Charm-.

“Kau tak perlu menerima kehadiran mereka. Tapi biarkan mereka hadir karena kita tidak bisa menghakimi apa yang mereka lakukan.” Page. 297

            Edvan has a perfect life. An independent guy, an architect who is on the highest achievement of his career, rich, heavenly handsome, and beyond of those things, he likes to show off what he has (riches, success, angelic physical appearance, naughty charisma). When he celebrated his über-splendid work in Singapore, he got a text from his brother in Indonesia who told him that their mother had passed away.
            Deciding to go back to his motherland, Edvan encountered that Edvin, his brother had changed. He met his mother’s profile laid on him for real. Edvin was no longer a guy. ‘He’ had reached ‘his’ dream that was becoming a pretty lady. Getting rid of self-denial of having a transgender brother, Edvan tried to focus to the weird legacy that he inherited from his mother. The legacy is an old calendar whose backside was written by Artika a journal. The most peculiar thing of the legacy is Edvan must have looked for the other six calendars which were in Bangkok. Edvan might be able to find the calendars easily if he had clear and precise clue but the hint that he’d got just a name and unspecific location. Furthermore, Edvan didn’t know that whether someone who kept the calendar was still alive or died because it is from 1980.
            Despite of having pessimist of finding the calendars, Edvan opted to fulfil his mother’s want. On the plane, when he tried to flirt to a flight-attendant woman, he got a name of someone in Bangkok that was disposed to help him to ‘explore’ Bangkok in the project to find the journals. She is Charm who offered herself to work for Edvan. Charm will get paid 3000 baht for every journal they get.
            As Edvan thought before, the journal chasing is nothing but complicated. It’s not only about the existing of journal’s keepers that Edvan and Charm had to find but also the feeling that Edvan put onto Charm. Being together every day made Edvan fell in love with Charm. He even hid everything about him that Charm hated. Well, one day, Charm had talked to Edvan that she hated an architect, transgender, a man who has tattoo, etc. (I forget the others). However, Charm regarded that Edvan was just a ‘boss’ who paid her for the job.
            Besides Charm, Edvan was also accompanied by Max, Charm’s younger brother. Despite of his annoyance, Max succeeded to amuse Edvan if he got broken heart because of Charm’s response and Max also helped Edvan finding his mother’s treasure. But, the closeness between them grows something strange which Edvan felt about Max. Especially, when the bathtub accident happened.
            Then, after Charm confessed that the call which she received every now and then was from her fiancée, Edvan decided to stop looking for his mother’s journal and accepted the current project that harms memorable place for him and Charm. Nonetheless, some lessons that he got about the loyalty among family members while he was exploring Bangkok, brought him to think twice about his decision.
“Lagi pula, aku nggak tertarik wisata bangunan artistik seperti di Eropa. Itu semua buatan manusia. Aku ingin wisata alam. Wisata yang bangunannya diciptakan langsung oleh Tuhan.” Page 94

            Frankly, among other GagasMedia novels which took romance as the main genre, Bangkok actually did a brilliant work. You can give checklist to ‘romance’ but the main point is about the relationship between son and his parents and brother to ‘brother’. As I stated in the synopsis, Edvan has disappointment to his parents—especially mother—about her allowance to let his brother becomes a someone else. But then, Edvan is swept by the wave of regret because of his leaving to prove that he could be independent guy. To wrap the big theme of this STPC up, Kak Momoe Rizal brings the story to an adventure so that, the city that he explores into the plot can be well-developed. I adore this idea so much.
            Now, let’s move to the Bangkok explanation that eng…. well-told, well-described, but can’t make me so impressed to get there. Yeah, to be honest, about the language that can we find in some parts of this book, I always skip it because I feel disturbed when I try to read it. Sometimes I am eager to learn Thai language but I hate when it is transliterated and the diacritic marks appear all the time. In addition, I suppose a lot of names of the place mentioned are little bit  annoying to me as well. However, I am so interested in wat (temples) and pagodas and the description about Bangkok which has large sidewalk. But, the most mesmerising about Bangkok is about the culture. I catch on to Bangkok has two sides which are in contradiction. One side tells me that Bangkok is a religious city but the other side reveals that Bangkok is so popular with its night life and LGBT free acceptance. And don’t you forget about belief in spirit and ghost. This one really reminds me of Indonesia, you know what I mean. It enlightens me why Thai movies are dominated with horror genre. I remember when Edvan is presumed as a horror movie star by Thai people who admire his charming aura. Well, if it is in Indonesia, I swear that Edvan can be supposed as sinetron actor.
            Speaking of destination place, I think there’s a fatal mistake done by Momoe Rizal. When Edvan visits floating market in Bangkok, he compares the place to the Indonesian floating market in EAST KALIMANTAN. Note it! East Kalimantan doesn’t have floating market. The one and only natural floating market in Indonesia is in SOUTH KALIMANTAN, and I think everyone knows that, especially the ones who live in the era when RCTI showed floating market as its opening. Please the notable Kak Momoe Rizal, you can do research well about the place overseas, so do it also about the place in your country. Moreover, it isn’t infamous place whose detail information is really difficult to find.
            Talk about the writing style, Kak Momoe Rizal, as usual, is capable to create a witty funny fresh writing that can make us be grateful to spread a smile. I, for the first time, fell in love with his writing when I read ‘Oh Baby’ which is an adaptation from teen movie ‘Oh Baby’ starred Cinta Laura. He can give his writing a soul by research, so when I read ‘Oh Baby’, I was sure that the author is a female. It also happens when I read ‘Glam Girls: Outrageous’. And now, Kak Momoe Rizal (I don’t know what your nickname) succeeds as well to make me sure that Edvan is him in reality. Not totally him, but I suppose that there are some aspects of Edvan which are actually him.
            Still in writing aspect, I want your clarification about this sentence I found in your book.
She’s the one whose I won’t mind being kidnapped by. (page. 92)
            I’m really sure that when I took Grammar 3 chapter adjective phrase, whose is not followed by pronoun or proper noun takes a position as object. I learned that whose indicates possession. And you know, when I type the sentence on Microsoft Word, there is a blue underline below whose, means that the sentence is not correct grammatically. So, I think the sentence must be changed into She’s the one whom I won’t mind being kidnapped by. Sorry for being a grammar police.
            And for my favourite part to talk: characterisation. I want to discuss it one by one.
1.      Edvan. A typical rich handsome guy who are very proud of his charming. Like to show off his pride. I am not really irritated of his tendency to boast his riches, but the way he prides and admires his body is seemed ‘you-know-what-I-mean’ to me. Entirely, Edvan is not an arrogant person. He’s kind and hilarious actually. He’s just annoying due to his bravado.
2.      Edvin a.k.a Edvina. You know what the next happens when I talk to transgender and Thailand? Yep! A beauty contest for trannies and Edvin also joins into this contest. He/she is more wise and witty than her brother. Trust me! She (I am tired to use both of single third person pronoun) isn’t a kind of coquettish tranny that we know in general. Despite her friends in club like to flirt to men, Edvina still shows courteousness like a lady.
3.      Charm. A generous woman who seems to distance from Edvan’s flirtation. Mature and well manner. She tends to be serious but not stiff or frigid. She’s cheerful at the place. When Charm gets a job from Edvan, she lives in secrecy. She is occasionally phoned by mysterious call whom she tells to Edvan as the job from charity foundation. I was wondering at the time what happens to Charm. It is funny when I think Charm is transgender and the pile she consumes is an oestrogen hormone, but when the fact revealed, I am little bit disappointed because it is too mainstream. Not an ending that I, and most of all readers, want, I suppose.
4.      Max. He is Charm’s younger brother. Comical, jocular, talkative, yeah, you can give him any labels indicate to an amusing person. I can’t stand to hold laughing when he puts his short off to show his tattooed ass to Edvan. Compare to Charm, the chemistry between Edvan and Max is thicker. Make me suspect that Max has feeling to Edvan. Come on, it’s Bangkok and I think nothing but ‘gay thing’ when Bangkok is taken as the main setting (I did a rhyme, yeah!). Moreover, my suspicion becomes more intense when Max tells that Edvan is like Chaiwat Thongsaeng (star of Bangkok Love Story. FYI, it is a very popular gay movie in Thailand).
I picture that Max is like a fool lover in ATM. You know, the boy who pretends cutting his chest to grab his heart and throw it to his girlfriend.
            Two things that quite disturbing in this book is the inconsistent of Kak Momoe Rizal in writing Edvin’s name. Sometimes he wrote ‘Edvin’ but sometimes he wrote ‘Edvina’. This case happens before Edvan is proud of admitting Edvin as his brother (sister) or in the other speaking, before Edvan is pleased to call Edvin as Edvina.
            One more, the journal is totally not readable. The font is too small and difficult to read.
            But, the best part of this novel is moral lesson. I quote one for you,
Di hadapanku, duduk seorang pria yang selama tiga puluh tahun terakhir mengumpulkan uang untuk bertemu Ibu. Sementara aku, sepuluh tahun terakhir mengumpulkan uang untuk menjauhi Ibu. Page 165
            Now, I feel like a freak critic!

Rating
Storyline: 6,5 of 7
Cover: 6,8 of 7


 
Images by Freepik