Pages

Senin, 21 Juli 2014

Review Novel : Nyai Gowok (Novel Kamasutra dari Jawa), Budi Sardjono



Judul : Nyai Gowok (Novel Kamasutra dari Jawa)
Penulis : Budi Sardjono
Jumlah Halaman : 332
Genre : Adult Fiction, Historical Fiction
Penerbit : Diva Press
Cover Designer : Ferdika
Tahun : 2014
Harga : Hibah dari Diva Press (buntelan BBI)
ISBN : 978-602-255-601-5
Rating di Goodreads : 2.8 of 6 votes
Note : Review buntelan dari Diva Press


“Bagaimana pun juga yang namanya perpisahan selalu menimbulkan kesedihan. Tidak ada perpisahan yang membuat hati orang-orang yang berpisah bergembira.” Hal. 313
Jika masa dewasa dan kanak-kanak memiliki batas teritorial, maka bagi seorang laki-laki, batas itu adalah ‘sunat’. Selepas menjalani proses ‘sunat’, Bagus Sasongko kini dinyatakan sudah dewasa. Sebagai seorang anak dari wedana (pembantu bupati) Temanggung, prosesi sunatan yang telah dilewati Bagus pun wajib hukumnya untuk dirayakan dengan pesta dan pasar malam selama tujuh hari penuh. Selain itu, Bagus Sasongko juga wajib menimba ilmu tentang seluk-beluk dunia seksual yang pasti akan dihadapinya di usianya yang beranjak dewasa, dengan seorang gowok bernama Nyai Lindri. Gowok sendiri adalah seorang perempuan yang ditugaskan untuk membimbing para lelaki beranjak dewasa untuk mengetahui sekaligus mempraktekkan apa yang disebut dengan ‘urusan kamar tidur’. Gowok mempunyai beberapa pantangan yaitu tidak boleh hamil, tidak boleh menikah, dan tidak boleh jatuh cinta pada murid bimbingannya.
Tinggal serumah dengan perempuan dewasa yang tidak ada hubungan darah sama sekali membuat Bagus sedikit kewalahan dengan gejolak testosteron yang terus menderanya apalagi Nyai Lindri mempunyai fisik yang amat menarik meskipun usianya sudah tak muda. Ditambah lagi, kamar tidurnya tepat bersebelahan dengan pancuran tempat Nyai Lindri biasa mandi, dan juga kehadiran Martinah, si tetangga yang sering membantu Nyai Lindri, yang belakangan membuat Bagus selalu bergairah membuatnya. Namun, memang itulah fungsi Bagus ditempatkan di sana. Tak sekedar diberikan nasihat, petunjuk, dan saran, Bagus pun bisa langsung mempraktikkan apa yang telah diajarkan kepadanya baik kepada Nyai Lindri maupun Martinah.
Saat Bagus sudah merasa betah dengan kehidupan barunya, tiba saatnya ia dihadapkan pada perpisahan dengan sang guru. Perpisahan yang membuat Nyai Lindri dihadapkan pada pilihan satu-satunya yang ia punya agar reputasinya sebagai Nyai Gowok tidak tercemar jika Bagus Sasongko menaruh hati padanya ataupun sebaliknya.
***
Sebelumnya, saya infokan bahwa novel ini mengingatkan saya akan film Jan Dara yang dibintangi oleh Mario Maurer. Tokoh utamanya sama-sama lugu, dan temanya pun sama, erotis historis. Jadi, saat membaca Nyai Gowok, yang tervisualisasi di benak saya justru Mario Maurer sebagai Bagus Sasongko dan ibu tiri Jan Dara yang awet muda dan bening banget itu sebagai Nyai Gowok. Now, let’s take a look my review!
Membaca tagline novel yang terasa menggigit dan amat mengundang selera (selera baca tentu saja), saya langsung punya ekspektasi lebih kalau novel ini akan membawa pembaca ke dalam dunia eroro versi sopan dimana bagian-bagian censored tersebut merupakan bagian dari educational purpose. Sayangnya, Novel Kamasutra dari Jawa tak lebih hanya embel-embel bagi saya pribadi. Jika digambarkan dalam bentuk persentasi, Kamasutra yang dimaksud hanya mengisi cerita sekitar 30-40 persen, selebihnya hanya berkisah tentang gejolak pasca-sunat yang dialami Bagus Sasongko saat nyantrik di rumah Nyai Lindri, juga mengenai usaha Lurah Juwiring yang desperate mengejar Nyai Lindri sampai menggunakan cara-cara klenik. See, judul novel ini tidak salah, hanya saja tagline-nya terasa sedikit sia-sia.
Nyai Gowok sendiri sebenarnya memiliki premis cerita yang segar dan original. Personally, saya belum pernah mendengar kisah tentang seorang perempuan yang mengabdikan dirinya untuk menjadi guru ‘seksualitas’ bagi para lelaki pasca sunat untuk lebih mengetahui seluk-beluk tubuh perempuan. Ya, seperti yang juga disebut dalam novel ini, lelaki punya naluri. Ia tahu apa yang harus ia lakukan ketika disuguhi wanita, maaf, dalam keadaan yang memang mendukung untuk melakukan hubungan badan. And speaking of kamasutra again, Nyai Lindri memang mengajarkan Bagus Sasongko tips and trick untuk memuaskan perempuan di atas ranjang. Saya sempat merangkum beberapa ajaran Nyai Lindri walaupun tidak begitu lengkap karena baru kefikiran pas di halaman-halaman akhir menjelang ending. Hehe...
Menurut kitab Rahasya Sanggama, ada tiga cara yang dapat ditempuh lelaki untuk memuaskan batin pasangannya. Angguliprawesa (dengan menggunakan jari-jari tangan), jihwaprawesa (dengan menggunakan lidah), dan purusaprawesa (dengan menggunakan alat kelamin).
Ramuan dan mantra untuk membuat lebih bergairah dan something related to Mr. P.: otak ayam jantan+madu+minyak bulus (digosokkan ke Mr. P.), telur ayam mentah+madu hutan (diminum), minyak bulus (digosokkan ke Mr. P.), tongseng torpedo kambing (dimakan), jamu beras kencur (diminum), Purwaceng dari Dataran Tinggi Dieng (dimakan jika berbentuk ubi, diminum jika berbentuk kopi), dan mantra Asmara Gama (dibaca).
Masih banyak lagi sebenarnya pelajaran-pelajaran yang didapat Bagus Sasongko saat nyantrik seperti perempuan yang ingin diperlakukan seperti makan mangga (I fairly disagree with this), dan lain sebagainya yang ‘mungkin’ bisa dipakai bagi yang ‘berhak’. So, let’s explore this book! Hehe...
Saya juga terkagum-kagum dengan Mas Budi yang selain gaya tulisannya splendid, wonderful, marvellous, amazing, hehe..., deskripsi latar cerita berupa tanah Jawa tepatnya Temanggung dan Jogja tahun 50-an benar-benar tergambarkan dengan sangat baik. Pun, latar belakang kultur masyarakat yang masih percaya hal-hal gaib seperti meminta restu nenek moyang yang sudah meninggal meskipun di lain sisi mereka juga percaya kepada Tuhan. Dan tentu saja, muatan historis yang disampaikan benar-benar membuat saya ternganga. Entahlah, mungkin Mas Budi memang menguasai sejarah (Pangeran Diponegoro, kisah mengenai perkeretaapian, Sunan Kalijaga, dan lain sebagainya) atau bisa juga hanya berupa hasil riset yang itupun menurut saya bukan hal yang mudah. Kalaupun hal tersebut hanya berupa rekayasa atau tak lain berupa produk imajinasi semata, saya tetap salut dengan detail yang disampaikan. Well, in my deep, saya tetap yakin historical things yang disampaikan bukan sekedar produk khayalan.
Speaking of the drawbacks,sayang sekali saya banyak mencatat ketidakpuasaan terhadap novel ini. Pertama, seperti yang sudah saya sampaikan di paragraf pertama, kesan kamasutra dari novel ini sungguh kurang terasa. Di bagian-bagian awal, ketika Bagus baru nyantrik di rumah Nyai Lindri, saya tidak menemui adanya ajaran yang diberikan oleh sang Nyai kepada Bagus. Pun, hanya dikisahkan tentang gejolak sang remaja ketika melihat Nyai Lindri mandi atau melihat bagian-bagian tubuh sang Nyai maupun Martinah yang terekspos. Di pertengahan novel, Bagus juga hanya diberi ramuan-ramuan. Well, Martinah memang sempat memberi Bagus tips, tetapi kadarnya terasa amat kurang.
Kedua, Nyai Gowok terlalu over dalam mencantumkan beberapa bagian misalnya tembang-tembang jawa yang persentasi kehadirannya menyamai taburan berbalas pantun di novel Sitti Nurbaya, juga mengenai Bagus yang entah berapa kali selalu memikirkan ‘titik kepuasaan wanita berkulit hitam ada di paha.’ Paha, paha, paha, paha. Pengulangan membuat bosan, kan? Dan berbicara mengenai tembang juga mantra dalam bahasa Jawa yang banyak dicantumkan di novel ini, saya sih nggak keberatan andai saja ada terjemahannya. Bagi orang non-Jawa, tembang-tembang dan mantra yang ditulis lengkap itu sama sekali tak ada artinya dan tentu saja akan langsung di­-skip.
Masih mengenai ‘berlebihan’, novel ini juga terlalu sering memakai kata ‘hehe’. Bagi saya, ‘hehe’ hanya cocok dipakai dalam teenlit, personal literature, jurnal harian, review pribadi, atau novel humor. Sedangkan dalam novel-novel serius, bahkan jika itu berupa roman sekalipun, kata ‘hehe’ dapat mengurangi kesan serius yang telah dibangun. Berkaca pada novel-novel terjemahan, mereka tetap bisa menghadirkan momen ‘sedang tertawa’,’nyengir’, ‘terkekeh’, atau ‘tersenyum’ tanpa menggunakan kata ‘hehe’ yang tampak kurang formal. Ada satu line di novel ini yang bisa menjadi gambaran bagaimana menghadirkan dialog humoris yang menular ke pembaca tanpa penggunaan ‘hehe’.
“Muntilan… Muntilan… Magelang… Magelang” teriak kernet bus sambil bergelantungan di pintu. “Crutu Magelang… mak crut metu pegele ilang.” Candanya yang disambut tawa para penumpang.
Jujur saja, saya tak tahu kenapa para penumpang tertawa karena sekali lagi saya tekankan, saya tidak mengerti bahasa Jawa. Namun, saya tersenyum seolah-olah saya paham apa yang dimaksud dengan mak crut metu pegele ilang.
Ketiga, jangan berharap ada adegan erotis a la novel historical romance di Nyai Gowok karena adegan kipas-kipasnya nanggung senanggung-naggungnya. Ciyussss! Saya bahkan tidak sadar bahwa Bagus sudah make out dengan Martinah karena ternyata ia masih saja memikirkan mengenai ‘paha’.
Keempat, selipan kisah mengenai Nyai Bayak Abang terlalu panjang padahal bukan bagian penting dari cerita. Dua atau tiga paragraf saya rasa sudah cukup untuk menceritakan tentang penghuni kubur yang tengah diziarahi. Pun juga, kisah tentang Lurah Juwiring yang fall in lust pada Nyai Gowok hanya memanjang-manjangi plot. Tanpa cerita tambahan itupun, plot utama tetap tidak akan terpengaruh. I think, Lurah Juwiring ini malah terkesan seperti konflik tempelan pesanan editor karena memang plot utama tentang Bagus yang berguru pada Nyai Gowok tidak berkonflik sama sekali. Sorry.....
Kelima, diceritakan bahwa Bagus Sasongko baru saja selesai disunat dan maka dari itu ia dikirim ke Nyai Lindri untuk menuntut ilmu tentang sex education. Premis ini agak kurang logis sebenarnya, apalagi ditambah dengan hubungan badan yang dilakukan Bagus pada Nyai Lindri untuk lebih mendalami (dengan kata lain, praktek) ilmu yang sudah diajarkan. Padahal dikatakan bahwa janganlah menggunakan nafsu kelelakian pada wanita yang belum menjadi isteri. Hmmm... kontradiktif. Selain itu, diceritakan pula bahwa Bagus Sasongko berumur 15 dan mau masuk SMA. What? Gede amat baru disunat!
Ada juga keanehan mengenai pengetahuan Bagus tentang tembang. Di halaman 88, ketika Nyai Lindri bertanya pada Bagus tentang tembang Macapat, Bagus menjawab di sekolahnya baru diajari Gambuh dan Pocung sementara Dandanggula dan Pangkur hanya disebut-sebut. Tetapi 200 halaman kemudian, tepatnya di halaman 288 ketika Nyai Lindri menanyakan hal yang sama (mungkin Nyai-nya lupa kali ya, hehhe), Bagus malah menjawab ia sudah diajari Dandanggula, Pocung, dan Gambuh sejak sekolah rakyat. Bahkan, mereka menembangkan Dandanggula bersama-sama. Kontradiktif? I see...
Keenam, plot hole. Saya sih bertanya-tanya, kok si Bagus bisa mengontrol untuk tidak meninggalkan benih saat make out dengan Martinah dan Nyai Lindri sementara dikisahkan bahwa dia itu begitu polos soal begituan. Martinah maupun Nyai Lindri pun diceritakan masih takut hamil, it means that they have no ‘protector’. Lebih tidak mungkin lagi kalau Bagus melakukan ejakulasi putus. Canggih bener baru pertama udah EP. Kwkwkwk... (buah dari fikiran saya yang terlalu ingin tahu).
Terakhir, ini sih berkenaan dengan personal taste jadi memang sifatnya subjektif. Hehe... Saya tidak suka dengan fakta yang dibeberkan novel ini mengenai gowok dan remaja. Kalau si gowok juga ujung-ujungnya ‘main ranjang’ dengan muridnya, semua pesan-pesan yang ia sampaikan untuk menjaga perasaan wanita, jangan mengumbar nafsu bla bla bla terasa mentah belaka. Di luar itu, as I mentioned above, idenya keren, sayang ceritanya kurang kaya dan plotnya, to be honest, biasa saja. That’s my reason of writing the plain synopsis like that (see the 1st, 2nd, and 3rd  paragraphs of this review).
Masalah cover tentu juga harus disoroti berhubung hal satu itu juga masuk dalam penilaian saya. Dan.... saya memutuskan bahwa cover Nyai Gowok, kuerrren bingitsz! Kesan Jawa dan tempo dulunya dapat sekali. Kombinasi warnanya pun indah. Pun, saya juga suka font tulisannya yang pas sehingga membuat novel ini ramah buat mata.
Meskipun saya mencatat banyak kekurangan, tanpa mengurangi rasa hormat kepada Diva Press yang telah memberikan novel ini secara prodeo, semata-mata hal ini saya lakukan untuk perbaikan ke depan. Saya tidak bermaksud mencela, sok tahu, atau gimana-gimana, karena bagaimana pun, pembaca adalah penikmat buku. Ketika ia merasa buku tersebut kurang nikmat, ia berhak komplain dong! Hehe... Tetapi, saya garis bawahi, novel ini bagus. Banyak aspek yang juga saya kagumi dan ya... I classify this as a page-turner book, yang artinya saya enjoy kok baca novel ini. Bikin nagih untuk tahu kelanjutannya.
I recommend this book to ‘lelaki yang ingin menambah gairah seksual dan kejantanan.’ Hihi...

P.S.: Nama penulis ikutan jadi cameo lho di novel ini. I think of Joko Anwar...

Review
Cerita : 5,5 of 7
Cover : 6,5 of 7

1 komentar:

 
Images by Freepik