Pages

Sabtu, 24 Januari 2015

Review Novel: Good Omens (Pertanda-Pertanda Baik), Neil Gailman & Terry Pratchett




Judul : Good Omens (Pertanda-pertanda Baik)
Penulis : Neil Gaiman & Terry Pratchett
Penerjemah : Lulu Wijaya
Jumlah Halaman : 520 hlm.
Genre : Satirical Comedy, Black Comedy, Fantasy
Penerbit : Gramedia
Cover Designer : Satya Utama Jadi
Tahun : 2010
Harga :  30.000 (beli di fb: Dojo Comic)
ISBN : 978-979-22-5622-2
Rating di Goodreads : 4.26 stars of 219,274 reviews
First Sentence : Hari yang indah.
Final Sentence : Bersandar penuh harap ke arah Tadfield........ selamanya.

            Menurut buku ramalan yang ditulis Agnes Nutter si Penyihir (satu-satunya buku berisi ramalan yang sangat akurat, ditulis tahun 1655, sebelum penulisnya meledak), dunia akan kiamat pada hari sabtu. Sabtu minggu depan, tepatnya. Persis sebelum saat makan malam. Maka balatentara Baik dan Jahat pun berkumpul. Atlantis muncul ke permukaan, katak-katak berjatuhan dari langit, orang-orang menjadi mudah marah. Kelihatannya segala sesuatu yang terjadi sesuai Yang Sudah Direncanakan. Tetapi ada malaikat rewel dan setan yang gemar hidup nyaman—dua-duanya sudah hidup di tengah manusia sejak Permulaan dan lama-kelamaan lumayan menyukai gaya hidup begini—yang tidak senang membayangkan Armageddon akan segera tiba. Selain itu, sepertinya si anak Antikristus dikirim ke tempat yang salah ....
***
            Jika membaca blurb di atas, cerita ini memang tampak konyol dan ngawur. Jujur, saya banyak sekali tertawa membaca novel ini, terutama saat mendapati kedua tokoh utama novel ini adalah Aziraphale—sang malaikat yang saya rasa terkesan agak lemot dan kurang update terhadap perkembangan dunia—dan sang iblis, Crowley, yang parlente, terkesan lebih pintar dari si malaikat, sekaligus usil. Ya, seperti yang tergambar di blurb di atas, Aziraphale dan Crowley sudah amat lama berada di atas dunia, menyamar sebagai manusia, dan akhirnya kerasan dengan pola hidup bumi. Bahkan saking betahnya, mereka merencanakan untuk menggagalkan Armageddon yang akan segera datang sehubungan dengan munculnya si anak Antikristus. Sebagai seorang-yang-bukan-apa-apa di neraka, Crowley ditugaskan kedua Duke Neraka, Hastur dan Ligur, untuk menukar sang bayi Antikristus dengan anak seorang Atase Budaya Amerika. Sayangnya, bayi tersebut justru tertukar dengan bayi satunya yang juga tengah dilahirkan di rumah sakit gereja Ordo Celoteh Santa Beryl.
            Selain tingkah laku konyol si malaikat dan iblis yang kali ini menjalin persahabatan baik, saya juga amat menyukai part si anak Antikristus bersama teman-temannya yang disebut geng Mereka. Nama geng yang aneh memang, dan itulah yang menjadi titik jenaka novel ini. Selain Mereka, ada juga anjing titisan neraka yang ditugaskan untuk menemani si anak Antikristus, dan nama anjing tersebut pun tak kalah unik. Anjing. Ya, nama anjing titisan itu adalah Anjing. Ngomong-ngomong mengenai geng Mereka, yang membuat saya amat memfavoritkan tiap bab yang memuat interaksi antar anak Antikristus dan kawan-kawan adalah kepolosan sekaligus ke-sokdewasaan mereka sebagai anak-anak. Pokoknya, jenuh seketika langsung hilang kalau adegan si geng Mereka ini tiba.
            Selain geng Mereka, ada satu geng lagi yang membuat saya terbahak-bahak. Menjelang akhir jaman, Agnes Nutter, si penyihir yang ramalannya selalu tepat sudah meramalkan bahwa akan ada empat Para Pengendara Kuda Hari Kiamat yang akan datang yaitu Kematian, Perang, Kelaparan, dan Polusi. Anehnya, geng yang disebut-sebut sebagai Horsemen ini justru datang dengan mengendarai sepeda motor gede (gubrak!). Dan parahnya, ada sebuah geng motor yang amat terinspirasi dengan Para Pengendara Kuda Hari Kiamat sehingga mereka memutuskan untuk menjadi Para Pengendara Kuda Hari Kiamat dengan nama-nama yang luar biasa kocak. Penyerangan Jasmani yang Parah, Kekejaman terhadap Binatang, Orang-Orang Super Cool, dan Menginjak Tahi Anjing (yang sebelumnya adalah Semua Orang Luar Negeri Terutama Orang Perancis, sebelumnya lagi adalah Benda-Benda yang Tidak Bekerja dengan Baik Meski Sudah Dipukuli, sempat mengajukan nama sebagai Bir Tanpa Alkohol, dan pernah menyandang nama Masalah-Masalah Pribadi yang Memalukan dalam waktu singkat).
            Berbagai hal konyol dan nyentrik pun mewarnai novel ini seperti misalnya Crowley yang masuk ke dalam telepon saat dikejar si Duke Neraka dan akhirnya si Duke Neraka tersebut terperangkap dalam jaringan telepon (belakangan berhasil ke luar saat ada nomor telepon yang mau menghubungi Crowley). Kurang ajaib apa coba! Belum lagi kemunculan alien, orang-orang Tibet yang muncul dari dalam tanah, dan hujan ikan yang ditanggapi penduduk dengan tidak terlalu terkaget-kaget.
            Kalau ditilik sekilas, cerita ini memang tampak membuat lelucon terhadap unsur-unsur keagamaan (apalagi salah satu tokoh disini juga disebut Metatron alias suara Tuhan). Namun, percayalah, jika dipahami secara komprehensif, novel ini justru menyimpan amanat yang amat bagus, sedikit menyinggung (that’s why I tag this as satirical comedy), dan tentu saja fantasi. Kalau novel ini dianggap sebagai pembangkangan terhadap nilai-nilai keagamaan dan sebut saja sekontroversi The Da Vinci Code, tidak mungkin Vatikan sampai punya satu eksemplar novel ini di perpustakaan pribadinya.
            Hanya saja, saya rasa butuh perjuangan berat untuk menuntaskan novel ini karena selain halamannya yang lumayan tebal, tokohnya yang luar biasa banyak, hal yang membuat novel ini butuh konsentrasi ekstra untuk melahapnya adalah karena alurnya yang random. Benar-benar random.
            Oh ya, novel ini bertaburan catatan kaki yang tidak seperti lazimnya berisi informasi mengenai istilah-istilah asing, catatan kaki di novel ini justru berfungsi sebagai penambah kekonyolan (nggak tahu apa istilahnya).
            Yang jelas, kalau ingin menikmati pengalaman membaca sebuah buku yang berbeda, Good Omens adalah bacaan yang sangat direkomendasikan.
           
Rating
Cerita : 6,5 of 7.
Terjemahan : 7 of 7
Cover Terjemahan : 6,5 of 7
Cover Asli : 6,5 of 7

3 komentar:

 
Images by Freepik