Pages

Jumat, 25 Juli 2014

Waktunya Bersih-Bersih


Click Here

Sekian lama setelah meninggalkan jejak terakhir di awal Juni lalu, pulau ini benar-benar terbengkalai. Kalau yang saya di blog-blog lain sih, para empunya bakalan nulis postingan khusus permintaan maaf sekaligus bersih-bersih ‘rumah’ yang sudah penuh sarang laba-laba akibat tak pernah dikunjungi untuk waktu yang cukup lama. Dari lubuk hati terdalam, saya juga ingin sih melakukan permintaan maaf tersebut, tetapi apa mau dikata ‘pulau’ saya tidak pernah kedatangan turis. Hahaha... So, saya minta maaf sama diri sendiri aja yang belum bisa menepati janji untuk terus menambah ‘fasilitas’ di pulau ini agar para wisatawan juga bakal melirik sepetak-tanah-di-tengah-samudera-blog-buku-yang-luas-ini.
Karena saya sudah terlanjur minta maaf, sekalian saja saya ingin bercerita (masih kepada diri saya sendiri) kenapa saya bisa sampai hati minggat dari pulau dalam kurun waktu sebulan lebih beberapa hari. Jawabannya sih sederhana. Jawaban tipikal mahasiswa yang amat mementingkan prestasi akademik dibanding segala-galanya (jangan hujat saya, hehehe). Ehm,, voila, karena tugas kampus numpuk di laptop. Bulan Juni kemarin saya jor-joran ikut les komputer sebagai persyaratan buat skripsi nanti dan itupun pakai sistem kebut beberapa kali pertemuan dalam seminggu karena dosennya pengen perkuliahan komputer berakhir sebelum Ramadhan. It means, waktu membaca saya berkurang 30 persen. Selain itu, conducting research mulai dari persiapan proposal, workshop, nyebar-nyebar angket, dan observasi juga bikin repot luar biasa. Belum lagi tugas kuliah yang lagi-lagi disuruh bikin proposal dua biji, ngereview academic journal article yang bahasanya naudzubillah bikin keleyengan (ngereview emang kerjaan saya sih, tetapi mereview novel kan nggak perlu nyantumin referensi segala. Hehehe), dan segunung tugas ‘menulis’ lainnya yang rasanya bikin mau muntah. Agak mendingan kalau dalam Bahasa Indonesia, ini mah pake bahasa bule. Jadilah, waktu membaca sekaligus mereview apa yang saya baca hilang seribu persen. Jangan membaca, waktu tidur aja perlu dikorbankan demi tugas, tugas, dan tugas.
Kapan sih menteri pendidikan meniadakan tugas dan tes sebagai bagian dari dunia pendidikan kita?
Dan memasuki bulan Juli, masa dimana final test dilangsungkan, sekaligus deadline dari semua tugas kuliah yang sudah saya jabarkan di atas, saya harusnya sudah bisa bernafas lega dan kembali ke pulau tercinta. Meskipun masih harus menyelesaikan laporan riset bersama dua orang partner yang kurang membantu (poor me), tetapi rasanya masa hiatus saya dari dunia per-blog-an ini sudah berakhir. I mean it. Kemarin sudah sempat baca beberapa puluh lembar Delirium yang baru beli pas bazar Mizan beberapa waktu lalu. Ya, saya sih berharap bulan ini bisa ngepost review lebih dari empat apalagi novel yang nunggu giliran dijamah di rak itu masih banyak banget dan alhamdulillah bulan ini ternyata udah bisa posting 2 review plus ditambah 2 lagi yang akan saya post setelah artikel ini. Iri rasanya melihat blog teman-teman lain yang selalu update meskipun mungkin tak kalah sibuknya juga. Hehe..
Sebagai sebuah curhat pada diri sendiri, posting ini memang cukup panjang. Maka dari itu, saya beserta seluruh keluarga besar mengucapkan ‘Selamat Hari Raya Idul Fitri’ dan juga tak putus-putus harapan agar pulau yang mulai berkembang ini bisa kedatangan turis. Satuuuu aja demi menyenangkan hati owner semata. Hehe...
HAPPY EID MUBARAK!

Senin, 21 Juli 2014

Review Novel : Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, Eka Kurniawan



Judul : Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas
Penulis : Eka Kurniawan
Jumlah Halaman : 246
Genre : Sastra Indonesia, Adult Fiction, Satire Fiction
Penerbit : Gramedia
Cover Designer : Eka Kurniawan
Tahun : 2014
Harga : 66.500 (Gramedia Veteran Banjarmasin)
ISBN : 978-602-03-0393-2
Rating di Goodreads :4.03 of 23 reviews
One word about this book : Bird

“Syarat pernikahan hanya ada lima. Paling tidak itu yang kuingat pernah kudengar dari corong di masjid. Satu, ada kedua mempelai. Dua, ada wali perempuan. Tiga, ada penghulu. Empat, ada ijab kabul. Lima, ada saksi. Tak pernah kudengar pernikahan mensyaratkan burung yang berdiri,” (hal. 91)
Setiap manusia pasti diberi ujian sebagai indikator ketaatannya pada pencipta, namun ujian yang diterima Ajo Kawir sangat eksklusif. Kemaluannya tak bisa bangkit, dengan cara apapun. Di masa pubernya, Ajo Kawir dan sahabat baiknya, Si Tokek, bertingkah layaknya remaja biasanya yang sedang berada di puncak hormon testosteron. Telinga mereka akan langsung berdiri, pun bagian lain dari tubuh mereka, jika mendengar hal-hal yang menyangkut anatomi tubuh perempuan. Sampai suatu hari, Si Tokek dengan antusias sekaligus misterius memberitahu Ajo Kawir bahwa ada pemandangan yang sangat indah yang tak boleh ia lewatkan.
Rona Merah. Perempuan gila yang ditinggal suaminya mati secara mengenaskan. Rona Merah tak pernah mau beranjak dari rumahnya, mungkin meratapi kematian suaminya di sana. Dan kesanalah Si Tokek mengajak Ajo Kawir. Tepatnya, untuk mengintip aksi pemerkosaan dua oknum polisi terhadap Rona Merah. Malangnya, Ajo Kawir kepergok sementara Si Tokek sempat kabur. Ajo Kawir pun dipaksa polisi tersebut masuk, untuk menyaksikan secara langsung adegan pemerkosaan Rona Merah. Dan setelah kedua polisi selesai menggagahi si perempuan gila, polisi itu kemudian menyuruh Ajo Kawir untuk ikut memerkosa Rona Merah dengan ancaman moncong pistol yang diarahkan kepadanya jika Ajo Kawir menolak. Saking ketakutannya, kemaluan Ajo Kawir malah lunglai dan akhirnya terlelap dalam tidur yang teramat panjang.
Memiliki ‘kenjantanan’ yang tak bisa beraksi merupakan aib yang luar biasa memalukan bagi Ajo Kawir. Berbagai cara telah ia coba untuk membangunkan si adek. Cabai, lebah sudah bertindak untuk membuat si adek terjaga, namun yang didapat Ajo Kawir hanya penderitaan berkepanjangan dan si adek tetap menutup mata dengan damai.
Bertahun-tahun berlalu, Ajo Kawir tetap memelihara burung yang tengah terlelap. Di saat-saat frustasi, Ajo Kawir melampiaskan emosinya dengan memukul orang, entah siapa. Dan ketika ia memiliki target baru untuk dijadikan samsak, momen tersebut justru mempertemukan Ajo Kawir dengan belahan hatinya. Iteung. Perempuan jagoan yang sempat mengalahkan Ajo Kawir dalam adu tangkas sekaligus mengalahkan hati Ajo Kawir yang kukuh tak ingin berhubungan dengan perempuan akibat ujian monoton yang dideritanya. Pada awalnya, Ajo Kawir memang menolak Iteung ketika perempuan itu meminta Ajo Kawir untuk menjadikannya kekasih. Ajo Kawir bahkan sampai melarikan diri. Tetapi ketika Iteung tahu alasan Ajo Kawir tak ingin menjalin asmara dengannya dan Iteung sama sekali tak mempermasalahkan kemaluan Ajo Kawir yang tak bisa berdiri, Ajo kawir pun akhirnya luluh.
Rumah tangga Ajo Kawir dan Iteung berjalan lancar pada awalnya karena meskipun Ajo Kawir tidak mempunyai senjata yang bisa ereksi, tetapi ia masih mempunyai jari-jari yang membuat Iteung sangat puas dengan pelayanannya. Namun, prahara datang ketika Iteung dinyatakan positif hamil. Ajo Kawir yang tahu bahwa janin itu tidak mungkin darah dagingnya langsung emosi dan melampiaskannya dengan membunuh Si Macan—si ayam jago yang kehilangan taji. Perbuatan itu membuat Ajo Kawir mendekam di jeruji besi. Di sana, Ajo Kawir belajar kehidupan yang baru. Pelajaran hidup yang diperoleh dari sang burung yang tengah tertidur. Ya. Kini Ajo Kawir belajar berdamai dengan keadaan. Belajar berdamai dengan emosinya yang rentan meledak. Belajar berdamai dengan sifat temparementalnya. Belajar berdamai sedamai burungnya yang layu, tenang, tak terusik. Ajo Kawir menempuh jalan sunyi.
Sebebasnya dari bui, Ajo Kawir membeli sebuah truk dan memilih untuk menjadi supir truk. Ia ditemani seorang remaja tanggung, Mono Ompong, dan belakangan hari, mereka berdua mendapat tambahan seorang perempuan penyusup berparas jelek dan bertubuh tidak menarik bernama Jelita. Anehnya, setelah penantian yang amat panjang, burung Ajo Kawir akhirnya bisa membuka mata, berdiri tegak menantang. Kejadian burung yang bangkit dari mati suri itu memang hanya dialami Ajo Kawir dalam mimpi basah bersama Jelita pada awalnya. Tetapi saat mereka bercinta di dunia nyata, keajaiban itu tetap berlanjut. Dan ketika Ajo Kawir ingin memastikan hal tersebut untuk yang kedua kalinya, Jelita malah lenyap tak berbekas.
Yakin bahwa asetnya sudah kembali bekerja, Ajo Kawir pun memutuskan untuk kembali ke pangkuan isteri dan anaknya. Sayangnya, baru saja Iteung bebas dari penjara setelah membunuh Budi Baik (laki-laki yang pernah bercinta dengan Iteung sebelum ia bertemu Ajo Kawir), Iteung kembali harus menghabiskan tahun-tahunnya di dalam hotel prodeo setelah ia menghabisi nyawa kedua polisi pemerkosa si perempuan gila Rona Merah, yang juga pelaku utama terbuainya burung Ajo Kawir dalam tidur yang nyenyak.
***
            Kalau pada protes setelah baca sinopsis versi saya di atas akibat beberapa kata yang nyerempet-nyerempet gitu, prepare yourself to nyumpah-nyumpah deh karena isi novel ini lebih vulgar baik dalam pemilihan diksi (prokem untuk merujuk alat kelamin, deskripsi tentang make out yang aduhai, sampai umpatan-umpatan kasarnya yang khas). Ya, seperti peringatan yang ternyata baru saya lihat setelah membuka plastik buku ini, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas memang hanya diperuntukkan untuk para pembaca yang berusia di atas 21.
            Speaking of plot, cerita ini sebenarnya punya premis yang teramat sederhana. Tentang laki-laki yang frustasi gara-gara burungnya nggak mau bangun. See? Tetapi ceritanya bakal kemana-mana dengan alur acak yang sebenarnya tidak membingungkan sama sekali, hanya saja agak menyebalkan karena ceritanya terkesan dipotong-potong. Timeline-nya sama sekali tidak beraturan. Kadang maju, mundur, semakin mundur, maju lagi, pokoknya seperti itu lah! Pada awalnya saya sempat desperate juga sama cerita dengan gaya seperti ini, namun ternyata eh ternyata, alur acak seperti ini justru menyingkap peristiwa sedikit demi sedikit dan akhirnya baru ketahuan di ending. Cukup lega sih karena pemilihan random plot­-nya terkesan tidak sia-sia belaka.
            Membaca karya Mas Eka yang satu ini sebenarnya membuat saya bertanya-tanya, apanya yang bagus sih sampai si penulis ini dianggap sebagai penulis top di Indonesia yang karyanya sudah diterjemahkan di luar negeri? Well, saya memang cuma penikmat buku sekaligus reviewer amatir, tetapi serius deh, gaya bahasa Mas Eka ini malah saya bilang terlalu biasa. Kalimatnya simpel. Pendek. Straight forward. Tidak baca deskripsi macam-macam. Dan terbukti, dengan gaya tulisan seperti ini, saya malah cepat bosan. Untungnya, cerita setelah Ajo Kawir membunuh Si Macan sukses menjadi mood booster yang ampuh, especially adegan kejar-kejaran truknya yang bikin deg-degan. Apalagi waktu baca adegan ini, saya lagi dalam bus yang sopirnya juga ugal-ugalan banget nyetir, bikin tambah deg-deg ser.
            Ide cerita udah keren. Penggarapannya lumayan. Namun ada satu yang sangat saya sayangkan dari novel ini. Kemunculan beberapa tokoh yang seolah hanya tempelan karena nggak ngaruh sama sekali sama topik utamanya (I talk about Si Bocah). Pun, ending-nya juga sangat dipaksakan. Tiba-tiba saja ‘peliharaan’ Ojo Kawir langsung siuman dari tidur panjangnya setelah bercinta dengan Jelita. Dan setelah itu, tidak ada pembahasan lagi kenapa hal itu bisa terjadi dan siapa sih Jelita yang kayak jelangkung itu, datang tak dijemput pulang tak diantar?
            Sisi terbaik, sekaligus yang paling unik dari novel ini adalah sampul novel dan judulnya. Kalau dilihat dari sampulnya yang unyu, pasti tidak akan pernah menyangka bahwa ceritanya bakal segila ini. Iya sih di cover-nya ada profil burung yang sedang tertidur, tapi come on, itu burungnya warna-warni dan sama sekali tidak bisa disangkut-pautkan dengan burung yang dimaksud dalam buku ini. Hehhe... Mengenai judulnya, keren banget sih meskipun tetep nggak ngeh dimana letak kesinambungannya antara cerita dengan judul selain masalah truk-truk ini.
            Well, saya benar-benar setuju kalau Eka Kurniawan bukanlah penulis konvensional!
“Kemaluan bisa menggerakkan orang dengan biadab. Kemaluan merupakan otak kedua manusia, seringkali lebih banyak mengatur kita daripada yang bisa dilakukan kepala. Itu yang kupelajari dari milikku selama bertahun-tahun ini.” hal. 126

Rating : 6 of 7
Cover : 6,5 of 7

Review Novel : Nyai Gowok (Novel Kamasutra dari Jawa), Budi Sardjono



Judul : Nyai Gowok (Novel Kamasutra dari Jawa)
Penulis : Budi Sardjono
Jumlah Halaman : 332
Genre : Adult Fiction, Historical Fiction
Penerbit : Diva Press
Cover Designer : Ferdika
Tahun : 2014
Harga : Hibah dari Diva Press (buntelan BBI)
ISBN : 978-602-255-601-5
Rating di Goodreads : 2.8 of 6 votes
Note : Review buntelan dari Diva Press


“Bagaimana pun juga yang namanya perpisahan selalu menimbulkan kesedihan. Tidak ada perpisahan yang membuat hati orang-orang yang berpisah bergembira.” Hal. 313
Jika masa dewasa dan kanak-kanak memiliki batas teritorial, maka bagi seorang laki-laki, batas itu adalah ‘sunat’. Selepas menjalani proses ‘sunat’, Bagus Sasongko kini dinyatakan sudah dewasa. Sebagai seorang anak dari wedana (pembantu bupati) Temanggung, prosesi sunatan yang telah dilewati Bagus pun wajib hukumnya untuk dirayakan dengan pesta dan pasar malam selama tujuh hari penuh. Selain itu, Bagus Sasongko juga wajib menimba ilmu tentang seluk-beluk dunia seksual yang pasti akan dihadapinya di usianya yang beranjak dewasa, dengan seorang gowok bernama Nyai Lindri. Gowok sendiri adalah seorang perempuan yang ditugaskan untuk membimbing para lelaki beranjak dewasa untuk mengetahui sekaligus mempraktekkan apa yang disebut dengan ‘urusan kamar tidur’. Gowok mempunyai beberapa pantangan yaitu tidak boleh hamil, tidak boleh menikah, dan tidak boleh jatuh cinta pada murid bimbingannya.
Tinggal serumah dengan perempuan dewasa yang tidak ada hubungan darah sama sekali membuat Bagus sedikit kewalahan dengan gejolak testosteron yang terus menderanya apalagi Nyai Lindri mempunyai fisik yang amat menarik meskipun usianya sudah tak muda. Ditambah lagi, kamar tidurnya tepat bersebelahan dengan pancuran tempat Nyai Lindri biasa mandi, dan juga kehadiran Martinah, si tetangga yang sering membantu Nyai Lindri, yang belakangan membuat Bagus selalu bergairah membuatnya. Namun, memang itulah fungsi Bagus ditempatkan di sana. Tak sekedar diberikan nasihat, petunjuk, dan saran, Bagus pun bisa langsung mempraktikkan apa yang telah diajarkan kepadanya baik kepada Nyai Lindri maupun Martinah.
Saat Bagus sudah merasa betah dengan kehidupan barunya, tiba saatnya ia dihadapkan pada perpisahan dengan sang guru. Perpisahan yang membuat Nyai Lindri dihadapkan pada pilihan satu-satunya yang ia punya agar reputasinya sebagai Nyai Gowok tidak tercemar jika Bagus Sasongko menaruh hati padanya ataupun sebaliknya.
***
Sebelumnya, saya infokan bahwa novel ini mengingatkan saya akan film Jan Dara yang dibintangi oleh Mario Maurer. Tokoh utamanya sama-sama lugu, dan temanya pun sama, erotis historis. Jadi, saat membaca Nyai Gowok, yang tervisualisasi di benak saya justru Mario Maurer sebagai Bagus Sasongko dan ibu tiri Jan Dara yang awet muda dan bening banget itu sebagai Nyai Gowok. Now, let’s take a look my review!
Membaca tagline novel yang terasa menggigit dan amat mengundang selera (selera baca tentu saja), saya langsung punya ekspektasi lebih kalau novel ini akan membawa pembaca ke dalam dunia eroro versi sopan dimana bagian-bagian censored tersebut merupakan bagian dari educational purpose. Sayangnya, Novel Kamasutra dari Jawa tak lebih hanya embel-embel bagi saya pribadi. Jika digambarkan dalam bentuk persentasi, Kamasutra yang dimaksud hanya mengisi cerita sekitar 30-40 persen, selebihnya hanya berkisah tentang gejolak pasca-sunat yang dialami Bagus Sasongko saat nyantrik di rumah Nyai Lindri, juga mengenai usaha Lurah Juwiring yang desperate mengejar Nyai Lindri sampai menggunakan cara-cara klenik. See, judul novel ini tidak salah, hanya saja tagline-nya terasa sedikit sia-sia.
Nyai Gowok sendiri sebenarnya memiliki premis cerita yang segar dan original. Personally, saya belum pernah mendengar kisah tentang seorang perempuan yang mengabdikan dirinya untuk menjadi guru ‘seksualitas’ bagi para lelaki pasca sunat untuk lebih mengetahui seluk-beluk tubuh perempuan. Ya, seperti yang juga disebut dalam novel ini, lelaki punya naluri. Ia tahu apa yang harus ia lakukan ketika disuguhi wanita, maaf, dalam keadaan yang memang mendukung untuk melakukan hubungan badan. And speaking of kamasutra again, Nyai Lindri memang mengajarkan Bagus Sasongko tips and trick untuk memuaskan perempuan di atas ranjang. Saya sempat merangkum beberapa ajaran Nyai Lindri walaupun tidak begitu lengkap karena baru kefikiran pas di halaman-halaman akhir menjelang ending. Hehe...
Menurut kitab Rahasya Sanggama, ada tiga cara yang dapat ditempuh lelaki untuk memuaskan batin pasangannya. Angguliprawesa (dengan menggunakan jari-jari tangan), jihwaprawesa (dengan menggunakan lidah), dan purusaprawesa (dengan menggunakan alat kelamin).
Ramuan dan mantra untuk membuat lebih bergairah dan something related to Mr. P.: otak ayam jantan+madu+minyak bulus (digosokkan ke Mr. P.), telur ayam mentah+madu hutan (diminum), minyak bulus (digosokkan ke Mr. P.), tongseng torpedo kambing (dimakan), jamu beras kencur (diminum), Purwaceng dari Dataran Tinggi Dieng (dimakan jika berbentuk ubi, diminum jika berbentuk kopi), dan mantra Asmara Gama (dibaca).
Masih banyak lagi sebenarnya pelajaran-pelajaran yang didapat Bagus Sasongko saat nyantrik seperti perempuan yang ingin diperlakukan seperti makan mangga (I fairly disagree with this), dan lain sebagainya yang ‘mungkin’ bisa dipakai bagi yang ‘berhak’. So, let’s explore this book! Hehe...
Saya juga terkagum-kagum dengan Mas Budi yang selain gaya tulisannya splendid, wonderful, marvellous, amazing, hehe..., deskripsi latar cerita berupa tanah Jawa tepatnya Temanggung dan Jogja tahun 50-an benar-benar tergambarkan dengan sangat baik. Pun, latar belakang kultur masyarakat yang masih percaya hal-hal gaib seperti meminta restu nenek moyang yang sudah meninggal meskipun di lain sisi mereka juga percaya kepada Tuhan. Dan tentu saja, muatan historis yang disampaikan benar-benar membuat saya ternganga. Entahlah, mungkin Mas Budi memang menguasai sejarah (Pangeran Diponegoro, kisah mengenai perkeretaapian, Sunan Kalijaga, dan lain sebagainya) atau bisa juga hanya berupa hasil riset yang itupun menurut saya bukan hal yang mudah. Kalaupun hal tersebut hanya berupa rekayasa atau tak lain berupa produk imajinasi semata, saya tetap salut dengan detail yang disampaikan. Well, in my deep, saya tetap yakin historical things yang disampaikan bukan sekedar produk khayalan.
Speaking of the drawbacks,sayang sekali saya banyak mencatat ketidakpuasaan terhadap novel ini. Pertama, seperti yang sudah saya sampaikan di paragraf pertama, kesan kamasutra dari novel ini sungguh kurang terasa. Di bagian-bagian awal, ketika Bagus baru nyantrik di rumah Nyai Lindri, saya tidak menemui adanya ajaran yang diberikan oleh sang Nyai kepada Bagus. Pun, hanya dikisahkan tentang gejolak sang remaja ketika melihat Nyai Lindri mandi atau melihat bagian-bagian tubuh sang Nyai maupun Martinah yang terekspos. Di pertengahan novel, Bagus juga hanya diberi ramuan-ramuan. Well, Martinah memang sempat memberi Bagus tips, tetapi kadarnya terasa amat kurang.
Kedua, Nyai Gowok terlalu over dalam mencantumkan beberapa bagian misalnya tembang-tembang jawa yang persentasi kehadirannya menyamai taburan berbalas pantun di novel Sitti Nurbaya, juga mengenai Bagus yang entah berapa kali selalu memikirkan ‘titik kepuasaan wanita berkulit hitam ada di paha.’ Paha, paha, paha, paha. Pengulangan membuat bosan, kan? Dan berbicara mengenai tembang juga mantra dalam bahasa Jawa yang banyak dicantumkan di novel ini, saya sih nggak keberatan andai saja ada terjemahannya. Bagi orang non-Jawa, tembang-tembang dan mantra yang ditulis lengkap itu sama sekali tak ada artinya dan tentu saja akan langsung di­-skip.
Masih mengenai ‘berlebihan’, novel ini juga terlalu sering memakai kata ‘hehe’. Bagi saya, ‘hehe’ hanya cocok dipakai dalam teenlit, personal literature, jurnal harian, review pribadi, atau novel humor. Sedangkan dalam novel-novel serius, bahkan jika itu berupa roman sekalipun, kata ‘hehe’ dapat mengurangi kesan serius yang telah dibangun. Berkaca pada novel-novel terjemahan, mereka tetap bisa menghadirkan momen ‘sedang tertawa’,’nyengir’, ‘terkekeh’, atau ‘tersenyum’ tanpa menggunakan kata ‘hehe’ yang tampak kurang formal. Ada satu line di novel ini yang bisa menjadi gambaran bagaimana menghadirkan dialog humoris yang menular ke pembaca tanpa penggunaan ‘hehe’.
“Muntilan… Muntilan… Magelang… Magelang” teriak kernet bus sambil bergelantungan di pintu. “Crutu Magelang… mak crut metu pegele ilang.” Candanya yang disambut tawa para penumpang.
Jujur saja, saya tak tahu kenapa para penumpang tertawa karena sekali lagi saya tekankan, saya tidak mengerti bahasa Jawa. Namun, saya tersenyum seolah-olah saya paham apa yang dimaksud dengan mak crut metu pegele ilang.
Ketiga, jangan berharap ada adegan erotis a la novel historical romance di Nyai Gowok karena adegan kipas-kipasnya nanggung senanggung-naggungnya. Ciyussss! Saya bahkan tidak sadar bahwa Bagus sudah make out dengan Martinah karena ternyata ia masih saja memikirkan mengenai ‘paha’.
Keempat, selipan kisah mengenai Nyai Bayak Abang terlalu panjang padahal bukan bagian penting dari cerita. Dua atau tiga paragraf saya rasa sudah cukup untuk menceritakan tentang penghuni kubur yang tengah diziarahi. Pun juga, kisah tentang Lurah Juwiring yang fall in lust pada Nyai Gowok hanya memanjang-manjangi plot. Tanpa cerita tambahan itupun, plot utama tetap tidak akan terpengaruh. I think, Lurah Juwiring ini malah terkesan seperti konflik tempelan pesanan editor karena memang plot utama tentang Bagus yang berguru pada Nyai Gowok tidak berkonflik sama sekali. Sorry.....
Kelima, diceritakan bahwa Bagus Sasongko baru saja selesai disunat dan maka dari itu ia dikirim ke Nyai Lindri untuk menuntut ilmu tentang sex education. Premis ini agak kurang logis sebenarnya, apalagi ditambah dengan hubungan badan yang dilakukan Bagus pada Nyai Lindri untuk lebih mendalami (dengan kata lain, praktek) ilmu yang sudah diajarkan. Padahal dikatakan bahwa janganlah menggunakan nafsu kelelakian pada wanita yang belum menjadi isteri. Hmmm... kontradiktif. Selain itu, diceritakan pula bahwa Bagus Sasongko berumur 15 dan mau masuk SMA. What? Gede amat baru disunat!
Ada juga keanehan mengenai pengetahuan Bagus tentang tembang. Di halaman 88, ketika Nyai Lindri bertanya pada Bagus tentang tembang Macapat, Bagus menjawab di sekolahnya baru diajari Gambuh dan Pocung sementara Dandanggula dan Pangkur hanya disebut-sebut. Tetapi 200 halaman kemudian, tepatnya di halaman 288 ketika Nyai Lindri menanyakan hal yang sama (mungkin Nyai-nya lupa kali ya, hehhe), Bagus malah menjawab ia sudah diajari Dandanggula, Pocung, dan Gambuh sejak sekolah rakyat. Bahkan, mereka menembangkan Dandanggula bersama-sama. Kontradiktif? I see...
Keenam, plot hole. Saya sih bertanya-tanya, kok si Bagus bisa mengontrol untuk tidak meninggalkan benih saat make out dengan Martinah dan Nyai Lindri sementara dikisahkan bahwa dia itu begitu polos soal begituan. Martinah maupun Nyai Lindri pun diceritakan masih takut hamil, it means that they have no ‘protector’. Lebih tidak mungkin lagi kalau Bagus melakukan ejakulasi putus. Canggih bener baru pertama udah EP. Kwkwkwk... (buah dari fikiran saya yang terlalu ingin tahu).
Terakhir, ini sih berkenaan dengan personal taste jadi memang sifatnya subjektif. Hehe... Saya tidak suka dengan fakta yang dibeberkan novel ini mengenai gowok dan remaja. Kalau si gowok juga ujung-ujungnya ‘main ranjang’ dengan muridnya, semua pesan-pesan yang ia sampaikan untuk menjaga perasaan wanita, jangan mengumbar nafsu bla bla bla terasa mentah belaka. Di luar itu, as I mentioned above, idenya keren, sayang ceritanya kurang kaya dan plotnya, to be honest, biasa saja. That’s my reason of writing the plain synopsis like that (see the 1st, 2nd, and 3rd  paragraphs of this review).
Masalah cover tentu juga harus disoroti berhubung hal satu itu juga masuk dalam penilaian saya. Dan.... saya memutuskan bahwa cover Nyai Gowok, kuerrren bingitsz! Kesan Jawa dan tempo dulunya dapat sekali. Kombinasi warnanya pun indah. Pun, saya juga suka font tulisannya yang pas sehingga membuat novel ini ramah buat mata.
Meskipun saya mencatat banyak kekurangan, tanpa mengurangi rasa hormat kepada Diva Press yang telah memberikan novel ini secara prodeo, semata-mata hal ini saya lakukan untuk perbaikan ke depan. Saya tidak bermaksud mencela, sok tahu, atau gimana-gimana, karena bagaimana pun, pembaca adalah penikmat buku. Ketika ia merasa buku tersebut kurang nikmat, ia berhak komplain dong! Hehe... Tetapi, saya garis bawahi, novel ini bagus. Banyak aspek yang juga saya kagumi dan ya... I classify this as a page-turner book, yang artinya saya enjoy kok baca novel ini. Bikin nagih untuk tahu kelanjutannya.
I recommend this book to ‘lelaki yang ingin menambah gairah seksual dan kejantanan.’ Hihi...

P.S.: Nama penulis ikutan jadi cameo lho di novel ini. I think of Joko Anwar...

Review
Cerita : 5,5 of 7
Cover : 6,5 of 7

 
Images by Freepik