Pages

Kamis, 25 Desember 2014

Review Novel: A Bend in the Road, Nicholas Sparks



Judul : A Bend in the Road (Pertemuan Nasib)
Penulis : Nicholas Sparks
Penerjemah : Marina Suksmono
Jumlah Halaman : 448 hlm.
Genre : Adult Romance
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cover Designer : Marcel A.W.
Tahun : 2003
Harga : 25.000 (fb: Sarang Buku)
ISBN : 979-22-0431-8
Rating di Goodreads : 4.00 stars of 92,166 reviews
First Sentence : Kapan cerita sesungguhnya dimulai?
Final Sentence : Miles dan Jonah sedang menunggunya di dalam.

   Jika kegagalan seorang penegak hukum dinilai dari ketidakmampuannya menyelesaikan sebuah kasus kriminalitas, maka Miles Ryan harus menanggung rasa bersalah dua kali lipat. Pertama, sebagai seorang sherif, dia gagal mengusut sebuah kasus tabrak lari sampai dua tahun lamanya, dan kedua, sebagai seorang suami, ia gagal menemukan pelaku kriminal yang telah menewaskan isterinya—korban dari kasus tabrak lari tersebut. Sebuah kewajaran jika Ryan selalu uring-uringan sepanjang tahun. Luka batin akibat ditinggal isteri tercinta, Missy Ryan, sekaligus karena kegagalannya meringkus pembunuh isterinya turut membawa dampak psikologis pada sang anak, Jonah. Di saat Ryan mulai bisa melanjutkan kehidupannya tanpa bayang-bayang duka mendalam, ia kembali dihadapkan pada persoalan yang menimpa puteranya. Tidak pelik, tetapi cukup membuat Ryan terusik.
            Jonah mengalami kesulitan dalam menghadapi pelajarannya. Untuk membicarakan hal tersebut, Ryan diundang oleh Sarah Andrews—guru kelas Jonah—untuk mencari solusi atas masalah anaknya. Pelajaran tambahan diputuskan sebagai solusi terbaik, dan yang paling berkewajiban untuk melakukan itu tentu saja ayah Jonah sendiri, Ryan. Namun sebagai seorang sherif, Ryan sering sekali punya kerjaan mendadak dan itu artinya memberikan pelajaran tambahan untuk Jonah sepulang sekolah sama mustahilnya dengan memasukkan benang ke lubang jarum dalam keadaan gelap gulita. Menyadari realita tersebut, Sarah menawarkan diri untuk membantu Ryan dalam memberikan Jonah pelajaran tambahan di kelas dengan satu persyaratan. Sarah meminta kipas angin.
            Berawal dari hubungan antara guru dan orang tua murid, Ryan dan Sarah mulai merajut rasa ketertarikan satu sama lain. Mereka yang sama-sama baru ditinggal pasangan masing-masing (Sarah baru saja bercerai karena suaminya tak bisa menerima keadaan Sarah yang imfertil) akhirnya terikat sebagai seorang sepasang kekasih yang harmonis. Hubungan tersebut berjalan mulus. Tanpa ada intrik khas pacaran remaja belia.
            Suatu saat, ketika Ryan tengah menjalankan tugasnya sebagai seorang sherif dan meringkus seorang tahanan-dalam-masa-pengawasan yang melanggar aturan, Ryan mendapat fakta baru tentang kasus isterinya yang sudah beberapa saat ini ia nyatakan case-closed. Ryan yang berang langsung membekuk orang yang dimaksud, yang sekian lama ini juga ia curigai karena orang tersebut, Otis, memang bermasalah dan bisa saja disebut musuh Ryan. Tetapi ada satu orang yang gerah dengan penangkapan tersebut. Orang yang merupakan pengemudi dari mobil yang menabrak Missy malam itu. Orang yang selama dua tahun terakhir selalu menanggung rasa bersalah dan takut karena lari dari tanggung jawab. Orang yang dua tahun terakhir terus mengawasi Ryan dan Jonah. Orang yang dua tahun belakangan selalu meletakkan rangkaian bunga di makam Missy. Orang yang akhirnya menjadi noda dalam ikatan tulus Ryan dan Sarah.
            Ryan tahu apa yang harus ia lakukan setelah pembunuh Missy yang sebenarnya justru menyerahkan diri dengan rasa menyesal ke hadapannya. Ryan bisa memilih tanpa ragu apakah ia harus mempertahankan rasa cintanya pada Sarah dengan memaafkan ‘pembunuh’ isterinya, atau mengikuti kemauan nafsu amarah yang dua tahun belakangan selalu menderanya.
            Di tangan Ryan, sebuah senapan akan segera terkokang.
***
            Pertama-tama, saya ingin mengucapkan puji syukur ke hadirat Tuhan YME karena novel yang sulit banget dicari ini akhirnya saya dapatkan juga. Saya memang bertekad, jika ada novel Nicholas Sparks tersedia dalam Bahasa Indonesia, saya akan memprioritaskan untuk mendapatkan novel tersebut terlebih dahulu dibanding mencari versi aslinya. Dan sampai saat ini, hanya The Rescue yang belum saya dapatkan karena novel itupun terbilang langka. Kalaupun ada yang jual, paling juga sudah dalam kondisi bekas.
            Ok, langsung ke cerita saja!
            Novel ini dibagi dalam dua sudut pandang penceritaan. Tulisan yang diketik dengan italic merupakan curhatan ‘seseorang’ yang bersudut pandang orang pertama tunggal. Dan tulisan yang diketik dengan mode normal, yang sekaligus mendominasi, bersudut pandang orang ketiga serba tahu. Di awal-awal, saya sempat tidak ngeh kalau ternyata bab yang diketik dengan italic merupakan bab yang menceritakan tentang penyesalan ‘seseorang’ yang telah menyebabkan Missy meninggal dalam kecelakaan. Saya baru sadar akan hal ini ketika lagi-lagi saya menemui bab dengan tulisan italic ini dan ia mulai sering menyinggung-nyinggung tentang kematian isteri Ryan. Dan sejak saat itu, dimulai lah aksi tebak-menebak tentang siapa sebenarnya pelaku kasus tabrak lari tersebut.
            Ya, lagi-lagi, Om Nico menghadirkan kisah romansa yang tidak hanya dibumbui adegan romantis tetapi juga suspense meskipun kali ini atmosfer suspense tersebut tidak terlalu terasa seperti halnya The Guardian atau Safe Haven. Pun, tidak ada tindakan kriminalitas yang terlalu mencolok sehingga novel ini tidak cukup menyandang genre romance semata. Mengingat A Bend in the Road termasuk dari beberapa novel awal Om Nico, saya rasa itu strategi yang bagus untuk tidak terlalu melenceng jauh dari genre yang membesarkan namanya lewat The Notebook, dan semakin mengeksiskan diri sebagai penulis romance nomor 1. Saya rasa, A Bend in the Road adalah eksperimen awal Om Nico untuk mengetahui seberapa antusias penggemarnya jika ia sedikit memasukkan unsur lain selain romance di dalam novelnya. And it work amazingly.
            Menyikapi isi cerita sendiri, saya sih sudah hafal dengan formula Om Nico yang mempertemukan dua orang manusia dewasa—termasuk duda atau janda—dan melibatkan keduanya dalam jalinan kisah cinta yang manis, tidak berlebihan, dan tentu saja mature. Om Nico teramat fasih dalam mendongeng jika tokoh-tokohnya merupakan pasangan dewasa, apalagi jika salah satunya sudah mempunyai putra atau putri karena cerita akan semakin menarik jika dibumbui dengan celoteh si anak. Sayangnya, kali ini karakter Jonah tidak banyak memberikan kejutan. Tidak terlalu istimewa juga seperti Kevin di Message in a Bottle.
Original Version
            Yang menjadi highlight novel ini tentu saja kemisteriusan si penabrak Missy yang dari penjabaran di bab-bab bercetak miring, merasa amat menyesali perbuatannya. Namun, ia belum memiliki kemampuan untuk mengaku pada Ryan apalagi ketika Ryan sudah mulai bisa merelakan kepergian isterinya di saat hatinya terisi oleh Sarah. Dan endingnya, benar-benar juara. Saya tidak menyangka bahwa Ryan akan bertindak demikian gentleman. Dan sedikit spoiler, novel ini happy ending. Yay! Untuk kali ini, saya benar-benar tidak ikhlas kalau hubungan Ryan dan Sarah harus berakhir tragis seperti di novel-novel Om Nico lainnya.
            Oh ya, saya suka sekali terjemahan judul edisi Indonesianya. Pertemuan nasib. Sekilas judul ini memang tidak terasa istimewa karena yang namanya jatuh cinta, pasti ada campur tangan nasib di dalamnya. Namun, khusus cerita kali ini, ‘pertemuan nasib’ benar-benar menjadi kunci utama dari teka-teki yang menyelimuti isi novel. Dan... akhirnya saya paham kenapa novel ini berjudul A Bend in the Road. Saya kira ini idiom, namun ternyata kalimat tersebut memang diartikan secara harfiah.
            Talk about cover, i love the Indonesian version one!

Rating
Cerita : 6,5 of 7.
Terjemahan : 6,5 of 7
Cover Terjemahan : 6,8 of 7
Cover Asli : 6 of 7







Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Images by Freepik