Pages

Sabtu, 20 Juni 2015

Review Novel: Athena, Erlin Natawiria



Judul : Athena: Eureka! (STPC #7 Gagasmedia)
Penulis : Erlin Natawiria
Jumlah Halaman : viii + 284 hlm.
Genre : Young Adult Romance
Penerbit : GagasMedia
Cover Designer : Jeffri Fernando
Tahun : 2013 (Cet. 1)
Harga : 51.500 (fb: Tokobuku Sukabaca)
ISBN : 978-979-780-671-2
Rating di Goodreads : 2.98 stars of 151 ratings
First Sentence : Widha memandangi benda mungil berbentuk segitiga yang tergeletak di atas paspornya.
Final Sentence : Langit belum pernah secerah ini sebelumnya ...

Athena adalah kota impian Widha dari dulu, dan setahun menjelang ia menanggalkan status mahasiswanya, gadis itu akhirnya berhasil mencapai impiannya. Dengan modal uang beasiswa selama tiga tahun yang tidak pernah dipakainya ditambah dengan honor selama ia menjadi jurnalis, Widha bertekad akan menjajal Yunani selama 2 minggu. Namun, di detik-detik keberangkatannya, Widha justru dipertemukan kembali dengan hantu masa lalu-nya lewat seorang penulis favoritnya, Keira. Dan yang lebih mengejutkan, ternyata hantu masa lalu tersebut juga akan berada di Athena, berbarengan dengan Widha. Walau tahu kemungkinannya untuk bertemu kembali dengan sosok tersebut di Athena amat besar, Widha tidak mengurungkan niatnya untuk menjajakkan kaki di kota impiannya tersebut.
            Di Athena, melalui sebuah adegan ‘mencium-daun-pintu’, Widha dipertemukan dengan Nathan, seorang pemuda asal Australia yang juga sedang berlibur di Athena. Mengetahui kalau Widha berasal dari Indonesia, dan Nathan juga pernah tinggal di Indonesia dan tentu bisa berbahasa Indonesia, merekapun memutuskan untuk menjadi partner travelling. Berbagai rencana pelesir berduapun dirancang, dengan Widha, tentu saja sebagai tour guide yang secara mengejutkan khatam kitab ensiklopedia Yunani karena tidak ada sudut di Athena sekaligus sejarahnya yang tidak diketahuinya.
            Seperti yang sudah ia duga pula, Widha pun juga bertemu dengan hantu masa lalu-nya, Wafi, di kota tersebut. Wafi yang akan mengisi festival musik di Athena kembali muncul di kehidupan Widha setelah lebih dari sewindu tidak ada kabar tentangnya. Reuni tidak menyenangkan itupun berhasil mengubah liburan Widha yang seharusnya menyenangkan menjadi suram. Ditambah lagi, ternyata Wafi dan Nathan juga saling mengenal, namun bukan sebagai teman, melainkan dua gladiator yang tidak mau menghentikan pertarungan meskipun sudah berada di luar arena.
            Cinta segiempat mendadak terwujud di tempat Widha seharusnya menyunggingkan senyum terus-menerus.
«««
Jujur saja, ini adalah kali ketiga saya membaca Athena dan ada tiga kemungkinan kenapa satu buku sampai dibaca sebanyak 3 kali: 1) buku itu adalah buku favorit; 2) buku tersebut tidak pernah selesai dibaca sebelumnya; 3) ada informasi yang ingin dicari di dalam buku tersebut. Dan alasan saya bukan no 1 dan no 3. Ya, pertama kali saya membaca ini adalah tepat ketika saya menyelesaikan Tokyo yang merupakan seri penutup dari STPC Gagasmedia season 1. Saat itu, setelah berhasil melahap beberapa lembar halaman pertama, saya berniat untuk melewatkan buku ini dan langsung membaca Casablanca. Saat itu, saya menganggap Athena adalah mimpi buruk para pembeli buku yang harus merelakan beberapa puluh ribu—yang bagi mahasiswa perantau seperti saya, tentu bisa dipakai makan 3 sampai 5 hari—demi sebuah bacaan yang—meminjam istilah para reviewer film di blog—kacrut. Kesan pertama saya terhadap buku ini sangatlah tidak baik. Kalau bukan karena Athena adalah bagian dari STPC yang saya beli dari Paris sampai Monte Carlo, buku ini bisa saja langsung saya hibahkan ke perpustakaan.
Berhubung Athena masih nangkring dengan manis di rak buku, setelah membaca Monte Carlo saya memantapkan diri kembali untuk membaca Athena demi melengkapi loyalitas saya terhadap seri ini. Meski masih tidak dapat menikmati Athena, namun untuk kali kedua saya berhasil melahap Athena beberapa bab sebelum akhirnya kedistract dengan datangnya buku-buku baru yang lebih menerbitkan air liur. Dan beberapa bulan setelah itu, tepatnya ketika saya tidak lagi menemukan bacaan baru, dan kartu keanggotaan di perpustakaan daerah juga sudah habis masa berlakunya, saya-pun kembali bertekad untuk menjajal Athena, kali ini harus sampai halaman terakhir.
Jadi, apa yang saya rasakan setelah itu?
Well, ternyata Athena tidak sejelek dugaan saya. Mengintip review dari teman-teman dan juga goodread, Athena memang mempunyai rating paling rendah dari semua seri STPC lainnya, dan saya fikir, rating tersebut memang tidak salah untuk menilai bagaimana kualitas seorang Erlin Natawiria di buku debutnya ini.
Secara garis besar, saya suka dengan tema yang dijabarkan di dalam buku ini. Gagal move on. Namun, tema yang bagus tersebut terkendala dengan alur penceritaan yang kurang logis, inkonsisten, dan plot hole. Pun, karakter-karakternya juga kurang berhasil menarik simpati dari pembaca. Saya rasa, tidak ada tokoh favoritable dari novel ini. Semuanya terkesan monoton, sekalinya berwarna, tokoh tersebut malah abu-abu. Tidak dapat ditebak sebenarnya penulis mau memberikan watak apa di tokoh-tokoh buatannya. Contohnya saja Widha yang sebenarnya cukup dewasa, namun di sisi lain ia malah kelihatan kayak remaja labil waktu bertemu Wafi di Athena.
Pun, ada banyak sekali hal-hal ganjil di dalam novel ini. Yang paling terasa sih bagaimana dialog satu dan yang lainnya berusaha ditulis dengan artistik dan cukup berhasil. Namun sayangnya, dialog-dialog yang artistik tersebut malah terasa tidak natural jika diucapkan di kehidupan sehari-hari, dan lagi, saya sering sekali menemui inkoherensi antar dialog. Ketika dialog yang ini membahas ini, dialog lanjutannya malah tiba-tiba nyasar kesini. Contohnya bisa dilihat di bawah ini:
“Sejak kapan kamu punya nama belakang Mafia?” sembur sang partner. “Why it should be the last name?”
Beberapa orang Yunani masih ada yang percaya bahwa orang asing itu jelmaan dewa, Strauss,” papar Widha, dengan sedikit penekanan. “Aku pilih Mafia karena Sumadimaja terlalu panjang.”
Kalimat yang saya bold menurut saya sama sekali tidak nyambung dengan seluruh percakapan di atas. Kenapa Widha tiba-tiba menyinggung soal orang Yunani yang percaya bahwa orang asing itu jelmaan dewa di saat Nathan bertanya kenapa Widha memakai Mafia sebagai nama belakangnya. Inkoherensi seperti kasus di atas sering sekali saya temui di buku ini.
Adapun mengenai keganjilan cerita, ada tiga contoh yang saya highlight disini. Yang pertama, mengenai insiden perkenalan Nathan dan Widha. Di sana diceritakan bahwa pintu kamar Nathan menghantam Widha yang berjalan di luar ketika Nathan ‘membukanya’. Nah, yang jadi pertanyaan, bagaimana Widha bisa menghantam pintu kamar Nathan kalau ia berjalan di koridor karena setahu saya, daun pintu akan mengayun ke arah dalam saat dibuka, bukan malah ke luar, kecuali pintu atm yang bisa ditarik maupun didorong. Aneh sekali rasanya menemui ada pintu kamar yang dibuka dengan cara didorong dari dalam. Kecuali kalau itu memang tipe pintu yang ada di Yunani.
Adegan kedua adalah ketika Widha memberitahu Deno ketika ia akan berangkat ke Yunani. See the following dialogue:
“Dengan enam ratus ribu selama enam semester, ditambah honor dari beberapa tulisan kamu yang ada di koran....” lipatan pada kening Deno bertambah. “Dua puluh tiga juta?”
Pertanyaannya adalah, bagaimana cara Deno mendapatkan jumlah 23 juta padahal rincian tabungan Widha saja dia tidak tahu.
Yang ketiga adalah ketika Keira mengucapkan nama Wafi sebagai tokoh yang menginspirasi tulisannya. Yang aneh adalah, Keira mengucapkan nama lengkap Wafi ketika diwawancara. Pertanyaannya, memang ada orang yang diwawancara menyebutkan nama lengkap orang yang menginspirasinya. Andai Wafi seorang selebriti terkenal, hal ini tentu tidak menjadi sesuatu yang aneh, tapi ini Wafi bukan siapa-siapa lho. Bahkan setahu saya, para penulis atau selebriti cenderung menyembunyikan sosok yang menginspirasinya baik dengan cara mengelak maupun memberikan julukan.
Oh ya, ada juga hal kurang logis yang cukup menyita perhatian saya yaitu mengenai status Widha sebagai penerima beasiswa Bidik Misi. Katanya, semua uang beasiswanya dan juga honor tulisannya ditabung untuk pergi ke Athena, tapi nyatanya Widha justru memiliki iphone dan ipod yang jelas sekali bukan barang murah. Dimana Widha bisa mendapat uang untuk membeli kedua barang tersebut, padahal katanya semua uangnya ditabung. Oke, taruhlah dia dapat uang dari orangtuanya, tapi ini si Widha penerima Bidik Misi lho. Dan jelas sekali target sasaran dari beasiswa tersebut siapa. Bukannya saya kepengen Widha ini digambarkan sebagai gadis miskin, tetapi alangkah baiknya sebagai seorang yang ‘tidak mampu’, pegangan Widha bukan iphone dan ipod.
Sekarang lanjut ke sisi inkonsistensi dan plot hole. Supaya lebih mudah dibaca, saya akan menjabarkan dalam poin-poin saja.
1.      Tiba-tiba nama Nathan berganti menjadi sang partner ketika Nathan marah dengan Widha akibat Widha tidak sengaja melempar dompet Nathan ke dalam air mendidih. Pergantian tersebut, kalau ibarat CGI, sangat tidak halus. Tidak ada pemberitahuan sebelumnya kenapa nama Nathan harus diganti dengan sang partner, dan tiba-tiba diganti dengan Nathan lagi.
2.      Ketika Widha bertemu dengan Wafi pertama kali, ia tampak marah. Yang kedua kalinya, ia malah membuatkan Wafi fasolada, terus marah lagi. Dan hubungan Widha dengan Nathan tiba-tiba merenggang tanpa alasan yang jelas. Dan tiba-tiba, Widha sudah berbaikan dengan Wafi ketika konser musik. Plot hole everywhere, sodara-sodara.
3.      Saya cukup bingung dengan pengunjung toko buku misterius di Monastiraki yang ternyata Widha. Padahal terakhir kali Widha mendapatkan porsi penceritaan adalah ketika ia dan Nathan sedang selonjoran di balkon penginapan. Eh, tanpa pemberitahuan apa-apa, Widha sudah ada di Monastiraki dan berpapasan dengan Wafi di sebuah toko buku di Monastiraki.
Untungnya, karena ini novel debut, kesalahan-kesalahan yang telah saya sebutkan di atas bisa dimaafkan. Pun, penjelasan Widha tentang seluk-beluk kota Athena juga saya bisa menebus kekecewaan saya terhadap novel ini meskipun penjelasan tersebut terasa too much sebenarnya. Sebagai penutup, saya mengutip satu quote di buku ini meskipun sebenarnya tidak ada hubungannya sama sekali dengan tema cerita.
Wisuda memang bukan acara wajib, tapi memiliki efek psikologis yang hebat untuk sarjana mana pun. Hal. 277

Rating
Cerita: 3,5 of 7
Cover: 6 of 7


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Images by Freepik