Pages

Minggu, 18 Mei 2014

Review Novel: Supernova #1 Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh, Dee



Judul : Supernova : Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh
Penulis : Dee
Jumlah Halaman : x + 322 hlm.
Genre : Adult Fiction
Penerbit : Bentang
Cover Designer : Fahmi Ilmansyah
Tahun : 2014
Harga : (harga satu paket di bukabuku.com)
ISBN : 978-602-8811-72-9
Rating di Goodreads : 3,76 of 777 reviews
One word about this book : Puzzling
Episode pertama dari seri Supernova

Di hari ulang tahun jadian mereka yang kesepuluh, Reuben—si Psikolog Kuantum yang tak pernah lepas menyinggung masalah psikologi dan fisika dalam setiap kesempatan—dan Dimas, seorang sarjana literatur yang puitis, memutuskan untuk membuat sebuah masterpiece alih-alih menyiapkan kado atau kue ulang tahun. Sebelumnya, mereka memang sudah berjanji untuk menciptakan sebuah masterpiece berupa jurnal atau riset yang akan menjembatani semua cabang ilmu pengetahuan (hal. 12), namun saat hari itu datang, Dimas justru mengusulkan untuk mengubah format masterpiece tersebut menjadi sebuah roman sains yang romantis sekaligus puitis. Sehingga terciptalah sebuah novel yang berkisah tentang orang ketiga.
Novel itu berkisah tentang Ferre, si kesatria tampan yang pintar, puitis, namun kesepian, yang menjatuhkan hatinya pada seorang jurnalis bernama Rana, sang putri yang ternyata sudah bersuami. Rana sendiri sebenarnya tidak bahagia dengan rumah tangganya karena jalinan pernikahan itu didasarkan atas keinginan orangtuanya, bukan karena ia cinta pada Arwin—suaminya. Jadi, cinta Ferre dan Rana-pun bersambut.
Setelah menjalani hubungan cinta diam-diam, tibalah Rana di titik bifurkasi. Titik di mana ia harus menentukan apakah ia akan memutuskan hubungannya dengan Arwin dan memilih bersama Ferre, atau tetap mempertahankan rumah tangganya yang hampa. Sayangnya, Ferre harus menelan pil pahit atas hubungannya yang selama ini berlangsung harmonis karena Rana ternyata lebih memilih Arwin, yang diam-diam juga sudah mengetahui perselingkuhan isterinya namun alih-alih marah, Arwin justru merelakan Rana jika seandainya ia lebih bahagia bersama Ferre.
Ferre yang patah hati merasa hidupnya tak lagi berarti tanpa Rana. Dongeng Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh di masa kecilnya yang berakhir sedih ternyata tak bisa ia simpangkan. Namun, kehadiran Bintang Jatuh yang diwakili oleh sosok Diva, seorang model sekaligus pelacur kelas ‘bisnis’, berhasil mengembalikan semangat hidup Ferre. Selain itu, konsultasi Ferre dengan seorang cyber avatar bernama Supernova juga menjadi suntikan motivasinya untuk kembali bangkit dari keterpurukan.
Di luar fiksi romantis yang dibangun oleh Reuben dan Dimas, ternyata tokoh-tokoh yang mereka tulis benar-benar hidup. Dan yang lebih mengejutkan, mereka pun mendapat email dari sang cyber avatar bernama Supernova!
***
            Two things that make reviewing seemed difficult: the best novel or the worst novel. Well, tetapi novel Supernova ini tidak masuk dua kategori di atas dan penulisan review-nya tetap saja terasa sulit. Seperti semua orang yang pernah membaca novel ini bilang, ini memang sebuah novel terobosan. Sebuah pembuktian bahwa penulis wanita tidak hanya memproduksi karya sastra wangi yang mewabah pada jaman novel ini terbit untuk pertama kali. Dan tentunya, Supernova berhasil mematahkan stigma tersebut.
            Pada dasarnya ini novel roman biasa. Hanya saya memang ada yang istimewa dan berbeda dibanding novel roman lainnya. Apa lagi kalau bukan balutan ilmiah yang juga menjadi dasar roman yang dibuat oleh Reuben dan Dimas. Meskipun tokoh utama dalam novel Supernova seri pertama ini adalah Reuben dan Dimas, namun Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh sendiri tidak menjurus ke arah mereka. Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh (bisa dibilang) ada novel berbalut ilmiah yang mereka ciptakan. Tentang Ferre yang seorang Kesatria, Rana yang seorang Putri, dan Diva yang seorang Bintang Jatuh.
            Berbicara tentang porsi cerita, jalinan romansa Ferre, Rana, Arwin, dan Diva mendominasi isi novel. Sementara alur kisah untuk Reuben dan Dimas sendiri tidak terlalu banyak. Hanya diisi oleh diskusi-diskusi dan perdebatan kecil tentang ke mana cerita novel yang mereka buat akan diarahkan. Saya sendiri memang lebih menikmati kisah Ferre dan kawan-kawan dibanding Reuben dan Dimas. Sebagai seorang pasangan, chemistry mereka sama sekali tidak ada. Dan, jujur saya akui, Reuben itu orang yang menyebalkan. Dialog-dialognya yang padat berisi sama sekali tidak diperuntukkan untuk otak manusia biasa seperti saya. Kebayang kalau saya punya kenalan seperti dia, maka saya akan langsung mundur teratur sebelum dia sempat berucap hal-hal yang hanya dimengerti oleh dirinya sendiri. Bukankah tujuan komunikasi agar lawan bicara dapat mengerti apa yang kita sampaikan? Dan anehnya, aneh sekali malah, Dimas yang notabene mahasiswa sastra, dapat paham ucapan Reuben yang saya rasa mungkin hanya mahasiswa eksakta dan psikologi yang mampu menyerap dan mengerti apa yang disampaikan oleh Reuben.
            Sebelumnya, saya pernah menjatuhkan pilihan untuk the most annoying character in a book kepada Dolores Umbridge di Harry Potter, tetapi Reuben tampaknya telah menggeser posisi Bu Umbridge tersebut.
            To be honest, saat menulis review novel ini, saya sedang dalam mood yang tidak menyenangkan jadi mohon dimaklumi kalau review kali ini tidak seperti yang diharapkan. Yang jelas, Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh adalah sebuah terobosan, novel spektakuler, indah, namun sayangnya tidak terlalu memukau saya pribadi. Selain karena beberapa elemen cerita yang susah dimengerti berkat ‘kejeniusan’ Reuben, yang akhirnya juga mengakibatkan menjamurnya footnote dalam novel ini, cerita cinta yang ditawarkan novel ini juga terlanjur biasa. Namun satu hal yang saya kagumi, Ferre adalah satu-satunya tokoh orang ketiga yang membuat saya justru bersimpati. Tetapi saya juga memihak pada Arwin sebagai suami sah Rana. Bingung kan? Baru sekali ini saya membaca kisah perselingkuhan yang seolah-olah tidak ada tokoh pengkhianat di dalamnya.
            Oh ya, for your information, semua seri Supernova sudah saya selesaikan sebelum membuat review ini jadi mohon dimaklumi juga kalau ada alur cerita yang sedikit melenceng, semua tak lain berasal dari kealpaan dan sifat lupa saya sebagai manusia.
            In my very humble opinion, saya rekomendasikan novel ini sebagai salah satu dari 100 novel Indonesia yang wajib dibaca.

RATING
Cerita : 6 of 7
Cover : 6,7 of 7

1 komentar:

 
Images by Freepik